Inilah 4 Staf Khusus Baru Presiden Jokowi

BLOKBERITA -- Presiden Joko Widodo menunjuk 4 orang untuk menjadi staf khusus presiden yang mengurusi berbagai macam urusan, mulai dari keagamaan, pondok pesantren, komunikasi dan ekonomi. 

Penunjukan itu tertuang dalam Keppres Nomor 28/M Tahun 2018 Tentang Pengangkatan Staf Khusus Presiden yang ditetapkan di Jakarta tanggal 3 Mei 2018 lalu. Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung tak ada pelantikan bagi staf khusus. 

"Sudah mulai kerja (kemarin), kemarin koordinasi dengan Mensesneg dan saya. Administrasi manajerial di bawah Seskab," kata Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (15/5).
"Harapannya staf khusus bisa membantu presiden karena yang dipilih secara operasional membantu di lapangan," lanjut dia.
Berikut 4 orang yang menjadi staf khusus presiden: 

1. Abdul Ghofar Rozin 
 
Abdul diangkat sebagai stafsus keagamaan urusan pondok pesantren. Dia adalah putra mantan Rais Aam PBNU almarhum KH Sahal Mahfudz. Abdul juga Ketua Yayasan Nurussalam Kajen, serta pimpinan Pondok Pesantren Maslakul Huda di Pati, Jawa Tengah.
Pramono menyebut stafsus ini tercetus saat Jokowi kunjungan ke pondok pesantren. "Ketika beliau (Jokowi) berkunjung ke pondok pesantren, madrasah, butuh latar belakang yang memahami," ucap Pram. 

2. Siti Ruhaini Dzuhayatin
 
Komisioner HAM Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) itu diangkat sebagai stafsus bidang keagamaan internasional. Ia merupakan lulusan S3 jurusan Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Dikutip dari http://wahidinstitute.org, wanita kelahiran Blora tahun 1963 itu meempuh pendidikan di Pesantren Pabelan Magelang, S1 Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, S2 Monash University Australia dan S3 Jurusan Sosiologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Dia pernah aktif sebagai anggota Nasyi’atul Aisyiah (NA), anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Muhammadiyah, Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Yogyakarta. Karyanya berjudul 'Feminist Theology and Islam in Indonesia'. 

3. Adita Irawati 

Vice President Corporate Communications PT Telkomsel ini diangkat sebagai stafsus untuk komunikasi antarkementerian dan lembaga. Aditia merupakan alumni jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Dikutip dari alumni.fisipol.ugm.ac.id, karier Adita dimulai saat staf management trainee di perusahaan makanan cepat saji. Kemudian ia berpindah ke perusahaan media dan menapaki posisi sebagai public relations assistant.
Hampir dua tahun berselang, dia pindah ke Indosat sebagai account executive. Karier berlanjut dengan menjadi asisten manager dan akhirnya menjadi Manager of Public Relations Satelindo, sebuah perusahaan yang diakuisisi Indosat.
Selama 13 tahun di Indosat hingga memegang posisi tertinggi sebagai Group Head Corporate Communications, Adita mendirikan perusahaan konsultan komunikasi yang menangani proyek konsultasi perusahaan kenamaan. Sampai akhirnya di tahun 2013, ia memutuskan pindah ke Telkomsel.
"Latar belakangnya yang punya pengalaman di korporasi karena Presiden ingin membenahi komunikasi di kementerian dan lembaga," ucap Pramono Anung.
"Kehumasan kita rata-rata di kementerian lembaga pakai pola lama. Padahal di era medsos, butuh yang memahami medsos, membuat framing, membangun konten dan sebagainya, apalagi medsos," imbuhnya.  

4. Ahmad Erani Yustika 

Pria kelahiran Ponorogo tahun 1973 yang menjabat sebagai Dirjen Kemendes itu diangkat sebagai stafsus untuk membantu presiden di bidang ekonomi.
Erani memperoleh gelar sarjana dari Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Universitas Brawijaya. Lalu pada 2001 menuntaskan studi post-graduate (MSc) dan 2005 studi doktoral (Ph.D), di University of Göttingen Jerman dengan spesialisasi Ekonomi Kelembagaan.
Sejak 2008 dia menjabat sebagai Direktur Eksekutif INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), Jakarta. Lalu sejak 2010 sampai saat ini menjadi Anggota BSBI (Badan Supervisi Bank Indonesia), serta menjadi Ketua Focus Group Infrastruktur Pengurus Pusat ISEI (2012-2015).
Ahmad Erani dikenal saat menjadi moderator debat Pilpres 2014 putaran kedua yang diadakan di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan.
"Profesor ekonomi dengan latar belakang cukup baik. Beliau memahami masalah dana desa sehingga diperlukan. Selain berkaitan ekonomi, adalah bagaimana dana desa meningkat, sekarang Rp 60 triliun. Itu ada pakar di bidang itu," kata Pramono. 

[ bmw / kumparan ]
View

Related

NASIONAL 484228612605712586

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item