Dibalik Kemenangan Mahathir di Pemilu Malaysia, Menjadi PM Tertua di Dunia dalam Usia 92 Tahun

BLOKBERITA, KUALALUMPUR -- Kemenangan koalisi partai oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu Malaysia 2018 merupakan hal tidak diduga sebelumnya termasuk oleh sejumlah pengamat.
Sebelumnya, sejumlah pengamat memperkirakan koalisi partai pendukung pemerintah Malaysia, Barisan Nasional, yang dipimpin Najib Razak, masih akan memenangkan pemilu ini meskipun dengan selisih tipis melawan koalisi oposisi Pakatan Harapan, yang dipimpin Mahathir Mohamad (92 thn).
–– ADVERTISEMENT ––

“ Pakatan Harapan memenangi pemilu penting ini setelah berjuang sejak pemilu 2008,” kata Dr Awang Azman, pengamat politik Malaysia dari University of Malaya kepada Tempo, Kamis, 10 Mei 2018.

Awang mengatakan ada sejumlah isu yang berkontribusi terhadap kemenangan koalisi pimpinan Mahathir Mohamad. “Manifesto PH menawarkan kebijakan populis yang akan dikerjakan dalam 100 hari pertama pemerintahan seperti menghapuskan pajak Goods and Services Tax,” kata Awang.
Awang menjelaskan GST dituding oleh kalangan masyarakat kecil Malaysia sebagai penyebab utama naiknya harga barang kebutuhan pokok. Najib Razak meluncurkan kebijakan ini sejak 2-3 tahun lalu dan mendapat kecaman keras masyarakat.

Isu lainnya yang membantu koalisi PH mendapat dukungan suara publik yang luas adalah kurangnya lapangan kerja, harga minyak yang naik dan investasi Cina. “Ini sejumlah isu yang berdampak pada (kekalahan) Barisan Nasional,” kata Awang.

Isu besar lainnya yang menjadi perhatian publik dan menjadi tema kampanye PH adalah pengusutan kasus dugaan korupsi pada skandal 1MDB. Ini merupakan singkatan dari 1 Malaysia Development Berhad, yang merupakan perusahaan investasi milik pemerintah.

Ada dugaan kuat triliunan rupiah uang rakyat yang dikelola pemerintah raib dan dibagi-bagi ke sejumlah petinggi Barisan Nasional. Nama Najib Razak, bekas Perdana Menteri Malaysia, disebut-sebut dalam kasus ini.

Dalam pernyataan pada dini hari tadi, Mahathir Mohamad, ketua PH, mengatakan tidak akan membalas dendam kepada Najib. “Kami (hanya) ingin mengembalikan kedaulatan hukum,” kata dia seperti dilansir Channel News Asia. Pada saat kampanye sebelum ini, Mahathir kerap menuding Najib terlibat korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan pemerintah. 

Faktor lain pendukung kemenangan ini, Awang melanjutkan, adalah tokoh Mahathir Mohamad, 92 tahun, yang pernah menjadi PM Malaysia selama 22 tahun hingga 2003. “Faktor Mahathir berdampak dominan memperkuat PH. Publik Malaysia juga mempercayai Mahathir dapat memperbaiki kondisi negara,” kata Awang.

Awang mengatakan Mahathir berhasil menggalang persatuan sejumlah partai agar mau berkoalisi. Ini menambah jumlah kursi yang dikuasai PH menjadi mayoritas sederhana atau diatas 50 persen dari total kursi parlemen 222 kursi.

Partai-partai itu seperti Partai Pribumi Bersatu Malaysia, yang dibentuk Mahathir sendiri, Partai Keadilan Rakyat, yang dibentuk bekas anak didiknya yaitu Anwar Ibrahim, Democratic Action Party, yang berbasis komunitas Cina, Partai Amanah dan Partai Warisan Sabah.

“ Pada akhirnya suara dan kekuatan rakyat menentukan terbentuknya pemerintahan baru Malaysia agar masa depan menjadi cerah dan pada jalur yang benar,” kata Awang. Sebelum ini, Awang sempat memprediksi Barisan Nasional masih akan memenangkan 118—133 kursi di parlemen.  

Pada pemilu Malaysia 2018 ini, Pakatan Harapan meraih 112 kursi dan Barisan Nasional mendapat 79 kursi. Mayoritas kursi Pakatan Harapan berasal dari daerah pemilihan Semenanjung Malaya. Hari ini, Mahathir dikabarkan akan menjalani pelantikan di Istana Negara meskipun belum dipastikan waktunya.  (bazz/tempo/abc/bbc/kmps)
View

Related

HEADLINES 5074131656258328557

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item