Mencegah Jakarta Macet Total pada Tahun 2022

BLOKBERITA — Ketika Anda membaca ini mungkin Anda sedang terjebak di kemacetan atau baru sampai di rumah atau kantor setelah bergulat berjam-jam di kemacetan Jakarta.
Terjebak kemacetan sudah menjadi hal yang terlalu biasa buat warga Jakarta. Jika kondisi kemacetan tetap seperti ini atau malah semakin memburuk,  Jakarta diprediksi akan macet total, bukan tidak mungkin lima tahun lagi.
Situasi semacam ini pun mengingatkan pada sebuah video berjudul "The Boxes". Video ini bercerita tentang bagaimana masyarakat yang diibaratkan berkendara dalam kardus-kardus lantas tidak hanya terkunci tak bergerak, tetapi juga merasakan frustrasi di jalan.

Lucu tetapi miris. Karena pemandangan ini sungguh dekat di hati kita sebagai warga Jakarta.

Menurut data Badan Pusat Statistik Jakarta, setiap hari paling tidak ada 16,8 juta mobil dan motor yang memadati Jakarta. Bahkan, hanya dalam kurun waktu dua tahun (Desember 2014 hingga Desember 2016), jumlah mobil pribadi dan sepeda motor di jalanan Jakarta bertambah sebanyak hampir 500.000 unit.
Banyaknya kendaraan ternyata tidak berbanding lurus dengan banyaknya penumpang yang diangkut. Coba diperhatikan. Ketika Anda di jalan, kebanyakan mobil yang berada di kanan kiri Anda hanya diisi satu atau bahkan dua orang. Padahal kalau kita lihat, setiap mobil paling tidak dapat memuat 4-5 penumpang.
Baru-baru ini sebuah survei dari sebuah aplikasi ridesharing menyebutkan warga Jakarta menghabiskan waktu 68 menit setiap hari terjebak macet, dan 22 menit untuk mencari tempat parkir. Bila dijumlahkan, dalam setahun, warga Jakarta membuang 22 hari karena macet dan parkir.

Bayangkan, Anda membuang 22 hari dalam setahun, hampir dua kali jatah cuti Anda selama dua tahun. Waktu tersebut sebenarnya bisa Anda gunakan untuk berkumpul atau berlibur bersama keluarga, memulai usaha baru, atau kegiatan produktif lainnya.
Dari sisi psikologis, terjebak di kemacetan ternyata dapat merugikan kesehatan. Tidak hanya Anda harus berangkat pagi-pagi, pulang malam dan harus menghabiskan waktu untuk duduk di kendaraan berjam-jam, tetapi ternyata itu juga mempunyai efek ke pikiran.
"Saat pengendara terjebak macet dan membuang banyak waktu di jalan, tidak hanya stres atau marah yang muncul. Detak jantung dan tekanan darah meningkat," ujar profesor psikofisiologi Stephen Fairclough dikutip psychologytoday.com, Rabu (2/9/2015).
Sementara itu, dari sisi produktivitas dan perekonomian, imbas kemacetan ternyata juga parah.
"Kerugian Jabodetabek itu (akibat kemacetan) Rp 100 triliun per tahun," ujar Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono, Jumat (20/10/2017).
Pemerintah saat ini bekerja untuk memenuhi infrastruktur yang dibutuhkan dalam menanggulangi kemacetan. Namun, tentu saja, permasalahan ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah dari pemerintah, tetapi juga kita sebagai pengguna jalan.
Mungkin kita harus berpaling pada transportasi umum atau teknologi untuk membantu mengatasi masalah ini. Misalnya menggunakan kereta atau melalui aplikasi ridesharing, kita bisa berbagi tumpangan sehingga secara langsung mengurangi jumlah kendaraan di jalan.
Kita tidak bisa lagi menunggu untuk beraksi. Jika tidak, maka mungkin 2-3 tahun lagi, kita akan kehabisan waktu untuk bersama keluarga kita tercinta karena waktu yang kita punya sudah dibuang di jalan. (gram/kmpscom)
View

Related

REGIONAL 6172029383863300609

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item