Kebijakan Pemotongan Anggaran Sri Mulyani (Austerity ) Menambah Beban Berat Jokowi di 2019

BLOKBERITA -- Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur, Dr. Rizal Ramli mengkritik kebijakan pengetatan (austerity) anggaran. Padahal kebijakan tersebut (austerity) hanya menyenangkan kreditor asing sementara rakyat justru mendapatkan susahnya. Banyak negara-negara Latin Amerika dan Eropa Selatan yang justru mengalami kegagalan paska menerapkan kebijakan pengetatan anggaran. Mestinya kebijakan yang diambil adalah memacu pertumbuhan ekonomi.
 
Melalui akun twitternya, sang begawan ekonomi yang populer dengan jurus "Rajawali Ngepret" Tersebut mengatakan:
@ramlirizal : "Selain kemudahan bisnis, ada 2 cara naikkan rating: pengetatan (austerity) vs growth story. Austerity, kreditor senang tapi rakyat susah." (15/6/2017)
Menurut Rizal Ramli seharusnya tim ekonomi lebih memilih memacu pertumbuhan ekonomi dari pada kebijakan pengetatan anggaran (austerity), karena dengan memacu pertumbuhan ekonomi manfaatnya akan jelas besar, ekonomi akan membaik, rakyat senang dan kreditorpun akan terbayar. 
@ramlirizal : "Dgn growth, ekonomi membaik, rakyat senang, rev pajak naik, kreditor terbayar. Latin Amerika & Eropah Selatan, contoh kegagalan austerity." (15/6/2017)

Kritik aktivis pergerakan era 1978 tersebut memang cukup beralasan, di era pemerintahan Gus Dur tahun 2001 misalnya, dengan kondisi sosial politik yang tak menentu paska reformasi 1998, dan pemerintahan Gus Dur yang hanya 1,5 Tahun, tangan dingin Rizal Ramli yang waktu itu menjabat menko perekonomian berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya minus 0,7% menjadi 3,5 %, banyak manfaat dari kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut.
Jejak terbosan RR di PT. SG
Sementara soal rating, tangan dingin Rizal Ramli juga telah mengukir sejarah tersendiri. Ketika itu RR sapaan akrab sang ekonom kerakyatan diangkat sebagai Presiden Komisaris atau Komisaris Utama PT Semen Gresik Tbk  (PT SG) tahun 2006.
RR melakukan berbagai terobosan dan percepatan perbaikan di PT. SG. Diantaranya dengan efisiensi memangkas transportasi dan distribusi dari 40% ke 30%, RR juga menurunkan biaya energi PT. SG dari 44% ke 30%, dan juga meningkatkan kapasitas produksi lewat optimalisasi operasional. Selain itu juga melakukan peningkatan yield/ton marketing lewat integrasi dan konsolidasi semua grup perusahaan.
Kerja keras dan kerja cerdas RR di PT. SG tersebut membuahkan hasil, Laba bersih PT. SG tahun 2007 melonjak 37%, dari Rp1,3 T (tahun 2006 ) menjadi Rp1,8 triliun. PT. SG pun naik peringkat menjadi BUMN terbaik dari 20 besar menjadi peringkat ke 7.
Berbagai penghargaanpun banyak diperoleh PT. SG di tahun 2007, seperti dua penghargaan dari Finance Asia Magazine; Top Brand Award 2007 versi Majalah Marketing; tiga penghargaan internasional pada International Convention on Quality Control Cycle (ICQCC), yaitu Excellent Award, Gold Award & Country’s Best Award-di Beijing, China; meraih empat medali emas Indonesian Quality Convention 2007 di Bogor dan Semarang; serta penghargaan Best BUMN 2007 kategori industri semen dan pupuk dari Majalah Investor.
Lembaga rating internasional Moodys memberi rating Ba2 ke PT SG. Rating Ba2 ini adalah dua tingkat di atas peringkat rating Republik Indonesia. 
Jadi ratting naik dan sekaligus rakyat dan bangsa untung. Bukan seperti kebijakan austerity Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ratting Naik tapi Rakyat dan Bangsa Buntung.

@ramlirizal: Dgn growth story, ekonomi naik dari negatif jadi 4%, RR naikkan rating RI 1 notch. Growth: Rating Semen Gresik naik 2 notch diatas Rating RI (15/6/2017).
Dengan berbagai pengalaman dan jejak RR yang cemerlang tersebut memacu pertumbuhan dan meningkatkan sebuah ratting, membuktikan RR seorang ekonom yang piawai dan handal dengan melakukan perbaikan ekonomi yang menguntungkan buat rakyat dan bangsa indonesia.
Maka tidak heran jika akhir-akhir ini publik juga mengapresiasi RR terkait kepretan RR yang terbukti benar, seperti soal Garuda Indonesia, Proyek Listrik, hingga soal Pelindo II. Belum lagi soal upaya RR yang cukup fenomenal di tahun 2001 yang memperbaiki PLN yang nyaris bangkrut dengan terobosan revaluasi aset dan tanpa uang. Maka kritik RR soal kebijakan austerity juga sangat tepat!!. 
Tokoh nasional Rizal Ramli yang pernah menjabat sebagai dewan penasehat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mengkritik kebijakan austerity (pengetatan) dengan cara potong anggaran yang disebutnya dengan kebijakan makro yang super-konservatif. Kebijakan tersebut faktanya memang membuat ekonomi berjalan stagnan alias nyaris datar.
Banyak gunjingan publik akibat ketidakpuasan laju ekonomi yang ada, baik kalangan bisnis dalam negeri yang mayoritas UMKM dan sedikit kelas menengah juga banyak yang mengeluh akibat susahnya kondisi perekonomian, belum lagi rakyat kelas bawah yang tercekik akibat kebijakan ekonomi yang kurang berpihak kepada mereka.
Kebijakan potong anggaran yang sekedar hanya untuk membayar utang luar negeri sejatinya hanyalah kebijakan yang menguntungkan kreditor-kreditor asing, namun rakyat mengalami kesulitan ekonomi akibat laju pertumbuhan ekonomi akhirnya tersendat dan menyusut. austerity berakibat kreditor untung, sementara rakyat buntung.
@ramlirizal: Dengan kebijakan makro super-konservatif, hanya potong anggaran, ekonomi nyaris datar sampai 2019, rakyat & bizz susah, tapi kreditor senang (15/6/2017).

Rizal Ramli menyarankan agar pemerintah harus segera berani menolak kebijakan austerity, Kebijakan yang di puja-puja Bank Dunia namun menyusahkan rakyat dan negara. kebijakan austerity tak lain adalah kebijakan jebakan yang berdampak panjang menciptakan keterpurukan negara, jebakan utang akibat mandeknya pertumbuhan ekonomi. Mestinya negara harus lebih berani menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga diatas 6%. Toh banyak cara yang bisa dilakukan untuk menggejot pertumbuhan ekonomi tersebut.

@ramlirizal: Harus berani keluar dari perangkap kebijakan austerity, yg dipuja2 Bank Dunia. Banyak cara2 pompa ekonomi yg akan genjot ekonomi >6 %. (15/7/2017).

Bagi Rizal Ramli, sang ekonom senior tersebut, datarnya pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan austerity bisa berdampak sampai 2019, rakyat bakal kecewa akibat susahnya laju perekonomian rakyat, belum lagi ekses fenomena Pilkada DKI 2017 yang lalu yang telah berakibat beratnya beban elektabilitas Jokowi akibat dituding membela dan melindungi sang penista agama (Ahok/Basuki Tjahaya Purnama)

@ramlirizal: Dgn anjloknya dukungan akibat pandora box paska Pilkada, dan ekonomi akan datar sampai 2019 krn super-konservatif, Pilpres 2019 akan berat. (15/6/2017)

Presiden Jokowi harus mengambil langkah-langkah taktis dan strategis dalam mengelola perekonomian negara, jangan sampai kebijakan yang diambil yang berakibat buntung kanan kiri, atas bawah tersebut terus dipertahankan, masih ada waktu untuk presiden jokowi genjot kinerja dengan memacu pertumbuhan ekonomi, bukan pemotongan anggaran (austerity) yang hanya berisi mitos mitos kebangkitan ekonomi namun faktanya jebakan tak berkesudahan ala Bank Dunia tersebut.  (bbcom/jurnialismcity)
View

Related

OPINI 1909589620583579589

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item