Inilah Pidato Terakhir Obama sebagai Presiden AS

BLOKBERITA, CHICAGO --  Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan pidato terakhirnya sebagai Presiden AS di Chicago, kota tempat dia dibesarkan, setelah menjabat sejak tahun 2008.

Obama membuka pidatonya dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga AS, baik yang memilihnya maupun tidak, dan menutup pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada istri dan anak-anaknya -Michelle Obama, Malia dan Sasha- juga kepada Wapres Joe Biden dan para staf.

"Setiap hari saya belajar dari kalian. Kalian membuat saya menjadi Presiden yang lebih baik dan pria yang lebih baik," kata Obama kepada para pendukungnya.

Obama mengatakan bahwa di bawah kepemimpinannya, AS berhasil bangkit dari resesi ekonomi, membangkitkan industri otomotif, meningkatkan lapangan kerja, membangun kembali hubungan dengan Kuba, menutup program nuklir Iran tanpa menembakkan sebutir peluru, menangkap otak 9/11, menciptakan keadilan dalam pernikahan dan memberikan akses asuransi kesehatan kepada 20 juta rakyat AS.

Presiden yang pernah mengenyam pendidikan dasar di Menteng, Jakarta ini juga menjamin transisi pemerintahan yang damai ke Presiden berikutnya, Donald Trump, sebagaimana transisi damai dari administrasi Bush kepada dirinya.

Fokus utama pidato Obama adalah mengenai situasi terkini demokrasi di AS. "Demokrasi tidak membutuhkan keseragaman. Para pendiri bangsa ini juga mengalami perbedaan pendapat dan akhirnya berkompromi. Mereka ingin kita melakukan hal yang sama. Demokrasi membutuhkan solidaritas -sebuah gagasan di mana di samping semua perbedaan, kita berjuang bersama-sama. Kita bangkit atau jatuh sebagai satu kesatuan".

Obama juga mengatakan bahwa demokrasi di AS berada di bawah ancaman seperti dunia yang semakin sempit, meningkatnya kesenjangan, perubahan demografik, dan terorisme. Hal-hal ini adalah tantangan pertama bagi demokrasi AS.

"Cara kita menjawab tantangan-tantangan ini akan menentukan kemampuan kita dalam mendidik anak-anak kita, menciptakan pekerjaan yang baik dan melindungi negara kita. Dengan kata lain, menentukan masa depan kita," kata Obama.

Obama menambahkan bahwa tantangan kedua bagi demokrasi AS adalah rasialisme. Rasialisme telah menjadi tantangan bagi AS sejak bangsa ini berdiri.

"Ke depan, kita harus menegakkan hukum melawan diskriminasi di bidang pekerjaan, perumahan, pendidikan dan hukum. Akan tetapi, menegakkan hukum saja tidak cukup. Supaya demokrasi AS berjalan maka kita harus mendengarkan nasihat Atticus Finch, tokoh fiksi sastra Amerika, yang mengatakan 'Kita tidak akan memahami seseorang jika kita tidak melihat dari sudut pandangnya'," kata Obama.

Untuk menegakkan demokrasi, Obama mengajak rakyat AS untuk keluar dari 'gelembung' dan mencoba memahami orang-orang yang berbeda pemikiran.

"Hal ini tidak mudah. Banyak dari kita yang merasa aman hidup dalam 'gelembung' di lingkungan kita, di kampus, tempat ibadah dan di sosial media, di mana kita dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai pandangan politik yang sama, tanpa pernah bersikap kritis terhadap pandangan kita sendiri. Kita merasa terlalu nyaman dan aman dalam 'gelembung' sehingga kita hanya menerima informasi yang kita suka dan sesuai dengan pandangan kita," kata Obama.

Menurut Obama, politik adalah perang gagasan yang harus dijalankan secara sehat. Hal ini adalah tantangan ketiga.

"Kita memiliki tujuan berbeda dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Mencari titik temu akan mustahil jika kita tidak mendasarinya berdasarkan fakta, menerima perbedaan pendapat, dan berdasarkan sains dan nalar," kata Obama.

Obama juga menyampaikan bahwa demokrasi di AS saat ini sedang diuji oleh kelompok fanatik yang mengaku-ngaku Islam, oleh orang-orang yang beranggapan bahwa demokrasi, masyarakat sipil, dan pasar bebas sebagai ancaman. "Mereka mewakili ketakutan akan perubahan, ketakutan akan perbedaan dan kebebasan berpikir".

Obama juga mengatakan bahwa AS telah berhasil menangkal aksi terorisme di AS selama dia memimpin. "Tragedi Boston dan Orlando mengingatkan kita akan bahaya radikalisme, tetapi aparat keamanan kita saat ini lebih efektif. Koalisi global melawan ISIL telah berhasil menangkap para pemimpin ISIL dan merebut kembali separuh wilayah kekuasaan mereka. ISIL akan dihancurkan karena tidak ada seorang pun yang bisa macam-macam dengan AS".

Mengandalkan kekuatan militer saja tidak cukup. Obama mengajak warga AS untuk tetap waspada dan tidak takut terhadap ancaman-ancaman demokrasi.

"Saya meminta rakyat AS untuk percaya pada diri sendiri bahwa kalian bisa membuat perubahan. Ya kita bisa!"  pungkas Obama.

Tolak Diskriminasi Muslim

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mendorong warga AS untuk tidak menyerah dalam ketakutan. Obama juga menegaskan sikapnya yang menolak diskriminasi terhadap warga muslim di AS.

Dalam pidato perpisahan yang disampaikan di Chicago, Selasa (10/1) malam waktu setempat, Obama berusaha membuat warga AS tetap bersemangat, setelah dirinya tidak lagi menjabat. Secara resmi Obama akan mengakhiri jabatannya pada 20 Januari mendatang, saat presiden terpilih Donald Trump dilantik.

Seperti dilansir CBS News dan Los Angeles Times, Rabu (11/1/2017), Obama meminta warga AS aktif menjaga demokrasi. "Demokrasi bisa melemah saat kita menyerah pada ketakutan. Jadi kita, sebagai warga negara, harus tetap waspada pada agresi eksternal, kita harus waspada terhadap upaya pelemahan nilai-nilai yang membuat kita menjadi diri kita yang sebenarnya," jelas Obama dalam pidatonya.

"Itulah mengapa, selama 8 tahun terakhir, saya berupaya melawan terorisme dengan landasan hukum yang lebih teguh. Itulah mengapa kita mengakhiri praktik penyiksaan, berupaya menutup Gitmo (penjara Guantanamo) dan mereformasi hukum yang mengatur pengintaian untuk melindungi kebebasan pribadi dan sipil," tegasnya.

"Itulah mengapa saya menolak diskriminasi terhadap warga muslim Amerika," imbuh Obama yang disambut tepuk tangan hadirin.

Pidato perpisahan Obama ini digelar di McCormmick Place, yang merupakan convention center terbesar di kawasan Amerika Utara. Sekitar 20 ribu hadirin dilaporkan hadir untuk mendengar langsung pidato perpisahan presiden kulit hitam pertama AS ini.

Lebih lanjut, Obama menyebut AS tidak bisa menarik diri begitu saja dari pertempuran global. Obama menegaskan bahwa demokrasi, kemudian hak asasi manusia juga hak kaum perempuan dan kaum LGBT, perlu diperjuangkan.

"Itu menjadi bagian dari membela Amerika. Pertempuran melawan ekstremisme dan intoleransi dan sektarianisme dan chauvinisme menjadi satu bagian dengan pertempuran melawan otoritarianisme dan agresi nasionalis," ujar Obama.

"Jika jangkauan kebebasan dan penghormatan pada aturan hukum di dunia melemah, kemungkinan terjadinya perang di dalam dan antar beberapa negara semakin meningkat dan kebebasan kita pada akhirnya akan terancam," tandasnya.  (bin/dtc/britasatu)

View

Related

TOKOH 9069153195230376453

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item