Dibenci dan Dicari, Situs Info Hoax, Mesin Pencetak Uang dan Kegaduhan

BLOKBERITA -- Upaya menangkal penyebaran informasi atau berita palsu alias hoax tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat juga berinisiatif menggalang potensi yang ada untuk melawan berita hoax yang semakin mewabah di Indonesia dalam setahun terakhir.
Masyarakat yang berhimpun dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) akan meluncurkan aplikasi Turn Back Hoax secara serentak di enam kota besar pada Minggu nanti (8/1). Aplikasi berbasis crowdsource ini dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi fitnah dan hoax, baik itu pada laman situs, pesan maupun gambar di aplikasi percakapan online.
Selain itu, hingga saat ini telah ada empat grup fanpage Facebook yang dibuat masyarakat sebagai laman untuk berbagi dan klarifikasi berita palsu. Fanpage tersebut antara lain, Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (FAFHH), Indonesian Hoax Buster, Indonesian Hoaxes, dan Sekoci.
Pemerintah juga telah bergerak untuk melawan wabah hoax. Presiden Joko Widodo sudah menyatakan, pemerintah akan melakukan penindakan hukum secara tegad dan keras terhadap para pelaku penyebaran informasi palsu. 

Akhir Januari ini, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan akan mengukuhkan pembentukan Badan Siber Nasional (BSN). BSK akan menaungi seluruh kegiatan siber nasional di Kementerian Pertahanan, cyber intelligence di Badan Intelijen Negara (BIN), dan cyber security di Kepolisian RI untuk melawan penyebaran berita hoax.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Kementerian Komunikasi dan Informasi akan memblokir 40 ribu media online yang teridentifikasi sebagai media penyebar berita hoax sebelum 9 Februari mendatang, yakni bertepatan dengan Hari Pers Nasional.
Sedangkan Dewan Pers akan memberlakukan sistem verifikasi media online dan cetak. Tiap media yang terverifikasi Dewan Pers, mulai 9 Februari nanti akan ditempeli logo khusus Dewan pers. Hingga saat ini, Dewan Pers mencatat 306 media sudah terverifikasi dari sebanyak 1.832 media.
Fenomena tersebut berlangsung di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia, seiring momen pemilihan pemimpin. Efeknya bisa memicu gonjang-ganjing momen politik tersebut hingga penghasilan miliaran rupiah.Wabah informasi hoax memang telah menyita perhatian dunia, tak cuma di Indonesia, belakangan ini, karena telah memantik gejolak sosial dan bisa berujung pada aksi kekerasan.

MAFINDO mengidentifikasi setidaknya ada sekitar 20 situs penyebar berita palsu yang masih beroperasi saat ini. Situs-situs berita palsu itu biasanya dilatari oleh dua jenis kepentingan, yaitu motif ekonomi untuk meraup uang dan motif politik.
Dengan berita palsu nan sensasional untuk mengundang pembaca, situs-situs itu berharap memanen trafik para pengunjungnya. Selanjutnya, pendapatan mengalir masuk dari pemasang iklan.
Saptiaji Eko Nugroho, inisiator MAFINDO menjelaskan, satu konten berita palsu yang tayang 1.000 kali akan dibayar US$ 1 atau US$ 0,04 per klik. “Jadi kalau ada satu artikel viral meskipun hoax atau provokasi, yang diakses hingga 100 ribu kali, bisa mendapat US$ 100,” katanya kepada Katadata, awal pekan ini.

Dengan kurs rupiah saat ini 13.300 per dolar AS, nilainya setara Rp 1,33 juta per item berita hoax. Nominal tersebut akan semakin bertambah jika berita itu viral dan banyak orang yang menyebarkannya melalui beragam media sosial dan aplikasi pesan online.
Eko menyebut beberapa situs berita palsu yang memanen fulus dari penyedia iklan melalui fasilitas Google Adsense. Antara lain posmetro.co dan nusanews.org. Sayangnya, saat mengunjungi situs tersebut, tidak tercantum nama pengelola dan staf redaksinya.
ilustrasi Hoax
Postmetro.co cuma menerangkan identitasnya sebagai portal berita independen yang mengusung ideologi nasionalis religius berhaluan moderat. Mayoritas informasi yang dimuat di media online ini dikutip dari media nasional, lokal dan independen lainnya.
Sebelumnya, ada pula situs berita hoax yaitu NBCIndonesia.com, pos-metro.com dan nusanews.com. Namun, situs-situs tersebut telah diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo No. 19/2014 tentang internet sehat.
Berdasarkan penelusuran Ade Fathony, seorang pegiat antiberita hoax, NBCIndonesia.com dan nusanews.com dimiliki oleh satu orang, yaitu Yovilon Sunander. Dengan menggunakan situs pengukur nilai finansial suatu website, Site Worth Traffic, NBCIndonesia.com ternyata dikunjungi sebanyak 481 ribu kali saban hari. Sebanyak 83,73 persen dari jumlah kunjungan itu berasal dari laman Facebook.
Dengan jumlah trafik sebanyak itu, NBCIndonesia.com  diperkirakan mampu mendulang pemasukan US$ 194 per hari atau US$ 69.840 per tahun. Jumlah ini hampir setara dengan Rp 1 miliar setahun!
Sementara itu, situs posmetro yang dibuat oleh  seorang mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Andalas, Abdul Hamdi Mustafa, bisa mendulang rupiah dari Adsense hingga US$ 40 ribu per tahun. 

Total Situs yang Telah Diblokir Periode 2013-2015
201320142015757 Ribu760 Ribu763 Ribu766 RibuSitus

 


Sunandi, sesama pegiat kampanye antiberita hoax, menandai sejumlah situs hoax semata bermotifkan uang. “Kalau pure cari duit adalah postmetro, nusanews, islamsehat,” katanya. Situs-situs itu mengejar trafik dengan menggunakan judul yang bombastis dan cenderung melintir dari isi berita.
Sedangkan situs yang diduga memiliki kepentingan politik dan afiliasi dengan partai politik tertentu, berdasarkan penelusuran Sunandi, antara lain: portalpiyungan.org, eramuslim.com, dan voa-islam.com. Portalpiyungan.org merupakan jelmaan dari PKSPiyungan.org.
Berdasarkan penelusuran melalui Worth Traffic, pemasukan iklan pkspiyungan.org sebelum dibekukan pemerintah sempat mencapai US$ 100 per hari atau US$ 36.500 setahun, yang setara Rp 485 juta. Pendapatan itu ditopang dengan sebanyak 300 ribu kunjungan per hari.

Berita Hoax yang Menghebohkan

Menurut Eko, situs berita hoax bekerja tidak seperti media online yang dilengkapi wartawan di lapangan untuk memproduksi berita. Mereka hanya melakukan twisting (pelintiran) terhadap sumber-sumber berita yang telah ada. Jadi, mereka tidak membutuhkan tim yang besar.
Namun, para pembuat berita palsu memiliki pemahaman yang baik mengenai internet marketing. Buktinya, situs seperti posmetro dan nusanews sempat dikategorikan sebagai “news” oleh Google sebelum akhirnya diblokir.
Pantauan MAFINDO, fenomena produksi berita palsu di Indonesia mulai marak sejak pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Aktivitasnya kian meningkat pada hajatan pemilihan presiden pada 2014 hingga sekarang. Menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta Februari tahun depan, fenomena berita hoax juga berkembang.
ilustrasi Hoax
(Arief Kamaludin | Katadata)
Sejauh ini, menurut Eko, motivasi para pengelola situs berita palsu masih tergiur oleh pundi uang yang dihasilkan dari iklan. “Apakah berita hoax ada yang memesan? Nah kami belum tahu kalau ada pesanan, tapi tidak menutup kemungkinan tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan penyebaran berita palsu di media sosial dilakukan oleh beberapa influencer dan buzzer. Ketika berita-berita ini dibagikan di Facebook atau Twitter, influencer ini bisa mendorong trafik yang luar biasa besar, mencapai ribuan atau puluhan ribu klik.
Menurut Eko, polarisasi politik cenderung membuat orang hanya membaca berita yang disukainya atau berasal dari tokoh yang berafiliasi dengan pilihan politiknya. “Karena banyak masyarakat yang telanjur alergi dengan media mainstream, yang menurut mereka tidak berpihak kepada mereka, situs abal-abal ini akhirnya booming,” ujarnya.
ilustrasi Hoax
(Arief Kamaludin | Katadata)
Momen pemilihan Presiden AS yang baru saja berlalu juga dipenuhi dengan berita-berita palsu yang sebarannya meluas melalui media sosial. Buzzfeed, media internet terkemuka di AS, mencatat lima berita hoax yang sangat populer di dunia seputar pemilihan Presiden AS pada November lalu.
Pertama, "Paus Francis merestui Donald Trump sebagai Presiden Amerika" yang dibagi 960 ribu kali. Kedua, "WikiLeaks ungkap Hillary menjual senjata ke ISIS" dibagi 789 ribu kali.
Ketiga, "Surat elektronik Hillary-ISIS" dibagi 754 ribu kali. Keempat, "Hillary langgar hukum federal" yang dibagi 701 ribu kali. Kelima, "Agen FBI temukan mayat bunuh diri di apartemen Hillary" yang dibagi 567 ribu kali.
Belum lama ini, media berpengaruh di AS, The New York Times, merekonstruksi bagaimana sebuah kabar palsu yang menjadi viral di media sosial hingga dianggap sebagai sebuah kebenaran dan menggegerkan publik. Kabar palsu itu mengenai adanya demonstran bayaran yang tidak suka dan ingin menjatuhkan presiden terpilih AS., Donald Trump.
Eric Tucker,  pendiri sebuah perusahaan pemasaran di Austin, Texas, memotret banyak bus yang terparkir di dekat pusat kota. Ia menganggapnya sebagai hal yang tidak biasa. Dugaannya, bus-bus itu mengangkut massa demonstran yang tengah menggelar aksi protes menentang Trump. Kala itu, awal November lalu, Trump baru saja memenangkan pemilihan Presiden AS.
Ia kemudian mengunggah tiga foto disertai cuitan di akun Twitter miliknya. “Demonstran anti-Trump di Austin hari ini tidak terstruktur seperti kelihatannya. Ini bus-bus yang membawa mereka. #fakeprotests #trump2016 #austin.”
Cuitan Eric Tucker soal dugaan demo anti-Tump
Meski hanya ada 40 pengikut (follower) akunnya., cuitan Tucker tersebut seketika menjadi viral di media sosial. Cuitan itu diduplikasi (retweet) sebanyak 16 ribu kali dan dibagi (share) 350 ribu kali di Facebook.
Persoalannya, belakangan, diketahui cuitan Tucker tersebut salah. Faktanya, tidak ada deretan bus yang membawa rombongan demonstran bayaran. Bus-bus itu sebenarnya disewa oleh perusahaan Tableau Software yang sedang menggelar konferensi di Kota Austin. Konferensi itu dihadiri oleh lebih 13 ribu orang.
Dalam cuitan lanjutannya, Tucker mengaku tidak melihat adanya aktivitas turun-naik penumpang dari bus tersebut. Namun, dia berasumsi bus-bus itu mengangkut demonstran karena berada di dekat lokasi aksi protes pada waktu bersamaan.
Dalihnya lagi, sebagai seorang pengusaha yang sangat sibuk, Tucker tidak punya cukup waktu untuk memeriksa segalanya sebelum mengunggah foto dan tulisannya di Twitter. Apalagi, dia tidak menduga konten tersebut menjadi konsumsi banyak orang.
“Saya tidak memikirkan adanya penjelasan lain ketika itu,” ujarnya dalam sebuah wawancara, seperti dilansir The New York Times, 20 November lalu.
Meski begitu, foto dan cuitan pria 35 tahun ini telanjur sudah beredar. Cuitan awal Tucker telah di-retweet dan disukai lebih 5.000 kali, dan jumlahnya terus bertambah.
Cuitan Tucker juga diunggah ke komunitas Reddit dengan judul: “BREAKING: Bus-bus mereka ditemukan! Puluhan bus terparkir hanya beberapa blok dari lokasi demonstrasi Austin.” 

Seorang pengguna di forum diskusi konservatif yang terhubung dengan Reddit, bernama Free Republic, menyebarkan konten Tucker ke dunia maya. Laman-laman Facebook, seperti Robertson Family Values, serta Donald Trump Commander in Chief 2020, juga terhubung dengan diskusi di Free Rebublic.
Direktur Corporate Affairs Coach USA North America, Sean Hughes, menyesalkan masalah ini. Perusahaan bus tersebut membantah keterlibatan armadanya dalam aksi demonstrasi.
Masalahnya, hampir tidak ada wartawan yang mengkonfirmasi dirinya perihal informasi tersebut. Seorang reporter stasiun televisi Fox di Austin menanyakan, "Anda sepertinya menerima lebih banyak telepon sejak informasi keliru itu tersebar luas.”
Hughes menjawab, “Anda sebenarnya wartawan kedua yang menelepon saya untuk melakukan konfirmasi. Tidak ada bloggers atau yang lainnya. Padahal kami mudah dihubungi melalui website.” Ia berharap masyarakat melihat fakta-fakta yang ada terlebih dahulu sebelum menyebarluaskan informasi keliru.
Doreen Jarman, Juru bicara Tableau, mengatakan telah mengeluarkan pernyataan kepada sebuah stasiun televisi lokal KVUE dan The Austin American-Statesman. Perusahaan itu menjelaskan, deretan bus dalam foto Tucker digunakan untuk keperluan konferensi perusahaan.
Setelah itu, Tucker mengunggah sebuah tautan blognya melalui Twitter, yang berisi pengakuannya mengenai informasi keliru. Bahkan, dia menghapus cuitan lamanya dan mengunggah konten baru berisi foto bus-bus itu dengan tulisan “false” atau “keliru”.
Namun, langkah itu seperti menggarami laut. Setelah satu pekan, cuitan ralat ini hanya mendapatkan 29 retweet dan disukai 27 pengguna. Sedangkan cuitan awalnya tetap tersebar luas di Facebook melalui Free Republic dan laman-laman seperti Right Wing News serta Joe the Plumber.
Tucker pun sangat menyesal. Ia mengatakan, jika bisa memutar waktu kembali, ia ingin menulis cuitan tersebut dengan sangat berbeda dan obyektif. “Saya akan lakukan yang terbaik untuk melihat fakta-fakta yang ada dan memperjelas antara opini dan yang bukan opini."  (bin/katadata)
View

Related

NASIONAL 6838228671613594128

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item