Amerika Serikat, Indonesia, dan "Post Power Syndrome"

BLOKBERITA -- Kursi kekuasaan memang sangat menggiurkan sekali bagi seorang manusia. Sekali ia mendudukinya sungguh berat sekali meninggalkannya, apalagi kursi kepresidenan yang begitu prestisius bak seorang raja diraja dijaman sekarang ini. Makanya ketika seseorang lengser dari tampuk kekuasaan, apalagi dari jabatan yang begitu mentereng seperti presiden Amerika Serikat, mungkin akan menimbulkan post power syndrome berkepanjangan.
Jawabannya bisa benar bisa juga tidak, tergantung bagaimana sang mantan pemimpin mengelola dirinya. Kita ambil beberapa contoh beberapa mantan presiden AS.
George W Bush, presiden ke-43 AS meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2009 setelah menjabat dua periode.
Dalam wawancaranya kepada Texas Monthly, Bush mengungkapkan apa yang dirasakannya di hari pertama bangun pagi di kediamannya sendiri sebagai warga biasa.
Saat bangun pagi, Bush "ngopi" sambil membaca koran dan saat itu dia langsung merasa sangat bahagia.
Dia merasa bahagia karena masalah-masalah besar yang selama delapan tahun menjadi bebannya, kini menjadi pekerjaan orang lain.
"Jadi saya kemudian mengumpulkan anjing saya, Barney dan Beazley, naik ke atas truk pikap, berangkat ke kantor saya, dan mulai menulis anekdot untuk buku saya," ujar pendahulu Barack Obama itu.
Bahkan setelah tak menjadi presiden Bush sama sekali tak tertarik dengan dunia politik.
Hal itu diungkap James Glassman, mantan direktur institut George W Bush, saat hadir di acara makan malam di kediaman sang mantan.
Saat itu, kenang Glassman, para tamu di antaranya Condoleeza Rice, masih membicarakan masalah politik. Tapi Bush sama sekali tidak.
"Sangat mengejutkan melihat bagaimana minimnya perhatian Bush terhadap dunia politik," kata Glassman.
Kegiatan Bush saat ini tak jauh-jauh dari kediamannya, terutama aktivitas yang banyak dilakukannya sebelum menjadi presiden.
Dia kini sering menggelar pesta barbeque bersama tetangga, main golf, dan mengendarai sepeda gunungnya.
Sesekali dia pergi ke Afrika di mana yayasan yang dia dirikan merenovasi rumah sakit dan mengembangkan program untuk memerangi kanker serviks.
Pendek kata, Bush tak mengalami apa yang disebut sebagai post power syndrome setelah kembali menjadi warga biasa.
Justru dengan predikat mantan presiden AS, Bush bisa menjual dirinya dan membangun "karier" baru yang lebih berguna dan mulia dibanding saat menjadi presiden.

Hal yang sama juga dilakukan Jimmy Carter setelah kalah telak dari Ronald Reagan dalam pemilihan presiden 1980. Dengan hanya memerintah satu masa jabatan, Carter saat itu pasti terpukul.
Apalagi setelah pulang ke kampung halamannya di Plains, Georgia, Carter mendapati bisnis perkebunan kacang milik keluarganya terlilit utang hingga 1 juta dolar AS.
Selain itu, kediaman pribadinya yang ditinggalkan selama empat tahun, benar-benar tak terurus dan butuh renovasi total.
Sehingga beberapa pekan pertama setelah Carter tak menjadi presiden, waktunya dihabiskan untuk memperbaiki rumahnya agar layak dihuni kembali. 

Jimmy Carter Library/Wikipedia PM Israel Menachem Begin, Presiden AS Jimmy Carter dan Presiden Mesir Anwar Sadat saat akan menandatangani perjanjian Camp David yang berujung pada perdamaian anrara Mesir dan Israel yang akan mengubah peta politik di Timur Tengah. 

Saat lengser dari kursi kepresidenan, Carter baru berusia 56 tahun, dan saat itu dia yakin masih bisa hidup hingga seperempat abad ke depan. "Dia ingin hidupnya produktif dan mencoba terus mencari sesuatu untuk dia kerjakan," kata Phil Wise, wakil direktur Carter Center.
Salah satu cita-cita Carter, seorang penganut Kristen Baptis yang taat, setelah tak menjadi presiden sangat sederhana.
"Dia ingin menjadi misionaris," kata Walter Mondale, wakil presiden di masa Jimmy Carter, suatu ketika.
Nah, salah satu keberhasilan Carter di masa pemerintahannya adalah kesepakatan damai Mesir dan Israel yang disponsorinya, dikenal sebagai perjanjian Camp David.
Bermodalkan prestasi itu, dia kemudian mendirikan Carter Center, sebuah institusi yang membuatnya menjadi diplomat "freelance".
Selama 30 tahun terakhir, Carter Center memantau lebih dari 100 pemilihan umum di dunia dan terlibat dalam memberantas penyakit "guinea worm" di Afrika.
Carter sangat sukses mendefinisikan kehidupan pasca-kepresidenan, dia mengubah hidupnya menjadi sebuah petualangan kemanusiaan dan filantropi.

Gambia, sebuah negara kecil di Afrika Barat yang seluruh perbatasan daratnya dikelilingi Senegal.
Negeri terkecil di Afrika ini nyaris tak pernah terdengar warga dunia hingga pemilihan presiden yang digelar pada Desember lalu.
Petahana, Yahya Jammeh sudah berkuasa di negeri mungil itu lebih dari dua dekade. Dalam pemilu dia menghadapi kandidat oposisi Adama Barrow.

AFP Yahya Jammeh.
 
Tak disangka, Jammeh kalah dalam pemilihan presiden karena rakyat Gambia ingin "penyegaran" sehingga memutuskan untuk memenangkan sang pesaing. Namun, Jammeh tak mau mengakui kekalahannya dan enggan lengser dari kursi empuk di istana presiden.
Alhasil sang presiden terpilih kabur ke Senegal karena merasa nyawanya terancam.
Kisruh politik di negeri kecil itu akhirnya memicu negara-negara Afrika Barat bertindak dan bahkan mengancam akan melengserkan Jammeh dengan paksa.
Ribuan prajurit disiapkan lima negara Afrika Barat, sementara para pemimpin dari Mauritania dan Guinea membujuk Jammeh untuk mau turun tahta.
Mengapa Jammeh tak mau mengaku kalah? Kemungkinan besar dia mengalami post power syndrome. Dia tak tahu harus melakukan apa setelah tak menjadi presiden.
Jabatan kepala negara, meski di negeri kecil dan miskin seperti Gambia, tetaplah merupakan pekerjaan idaman.
Mulai dari gaji yang besar, fasilitas nomor wahid yang disediakan negara, tinggal di istana yang mewah, pengawalan 24 jam dan belum lagi kemungkinan mendapatkan keuntungan pribadi dari jabatan tersebut.
Mungkin di benak Yahya Jammeh, hidup sebagai warga biasa yang tak lagi memiliki kekuasaan sangat mengerikan dan sulit untuk dijalani.
Jammeh, yang mungkin merasa belum berbuat banyak untuk rakyatnya selama dua dekade berkuasa, agaknya takut untuk menjadi warga biasa karena khawatir pembalasan dari rakyat.
Bahkan beberapa negara Afrika harus membahas tempat pengasingan bagi Jammeh demi membujuk dia mau menyerahkan kekuasaannya.

Indonesia, meski tak setua Amerika Serikat dan bukan negara yang secara politik kisruh macam Gambia, sudah memiliki beberapa mantan presiden.
Sejak Suharto terguling pada 1998, negeri ini sudah memiliki empat mantan presiden yaitu BJ Habibie, almarhum Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.
TRIBUNNEWS / HERUDIN Presiden Joko Widodo berbincang bersama mantan presiden Bacharuddin Jusuf Habibie (kiri), Susilo Bambang Yudhoyono (dua kanan), dan mantan wakil presiden Hamzah Haz (kanan) usai acara peresmian gedung baru KPK di Jalan Kuningan Persada, Kavling C4, Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2015). 

Keempat mantan presiden ini harus diakui memiliki kapasitas, kapabilitas, dan pengalaman yang sangat luas yang tentu sangat bermanfaat bagi bangsa ini jika digunakan dengan semestinya. Memang dunia politik Indonesia belum seperti AS yang sudah hampir 250 tahun merdeka. Pengalaman manis dan pahit membuat AS memiliki sistem politik, yang meski tidak sempurna, setidaknya sangat stabil.
Nyaris tak ada mantan presiden AS yang mengecam kebijakan penerusnya.
Carter memang berbeda pendapat soal Korea Utara dengan pemerintahan Bill Clinton, atau juga soal perang Irak yang dikobarkan George W Bush.
Namun, Carter tak mengecam kebijakan pemerintah AS. Dia, dengan kemampuan dan jaringannya, melakukan lobi untuk menunjukkan dan memperjuangkan pendapat politiknya.
Donald Trump, di hari pertamanya menjadi presiden sudah berupaya untuk menyingkirkan program layanan kesehatan bagi rakyat miskin, Obamacare.
Hingga saat ini, belum ada kabar Obama kemudian berkomentar atau Partai Demokrat yang mengecam kebijakan presiden baru, meski mungkin saja kebijakan itu tak disukai.
Meski toh di AS kini masih digelar unjuk rasa menentang Trump, sejauh ini para politisi mereka, khususnya Obama, tak mengeluarkan pernyataan yang semakin memanaskan situasi.
Mungkin para politisi di AS, khususnya Obama yang baru saja menjadi mantan, menyadari betapa berbahayanya menyiram api dengan menggunakan bensin sehingga mereka memercayakan semuanya kepada sistem yang sudah tersusun.
Seperti dikatakan David Maranniss, penulis biografi Barack Obama dan Bill Clinton, bagi Obama saat ini yang terpenting adalah keluarganya.
Di usia paruh bayanya, Obama akan menghadapi masalah yang lebih besar yang harus dipusingkan selain post power syndrome.
Kedua putrinya sudah beranjak dewasa dan tak lama lagi mereka akan lebih memilih berkumpul bersama teman-teman ketimbang nonton bioskop bersama ayah.
"Hal itu membuat saya sedih," kata Obama satu ketika.
Sejumlah teman dekat Obama mengatakan, potensi "kehilangan" kedua putrinya yang beranjak remaja lebih membuat Obama sedih ketimbang meninggalkan Gedung Putih.
Jadi, para mantan pemimpin di negara manapun seharusnya bisa memilih apakah mereka ingin seperti menjadi para mantan presiden AS yang bisa memberdayakan diri dan berguna bagi umat manusia, atau menjadi seperti pemimpin Gambia yang enggan lengser dan sibuk mencari suaka politik pasca-berkuasa.

Oleh : Ervan Hardoko / Wartawan, peminat isu-isu luar negeri dan olahraga, meski tidak gemar berolahraga (kompascom)
View

Related

OPINI 7602039228701488965

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item