Harga Minyak Merangkak Naik Seiring Berhentinya Produksi di Sejumlah Negara

NEW YORK, BLOKBERITA -- Brent naik 4 persen pada perdagangan komoditas Selasa (10/5/2016) waktu setempat atau Rabu (11/5/2016) dini hari (WIB). Sementara minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik lebih dari 2 persen.

Penyebabnya, ledakan pembelian minyak mentah akibat adanya ekspektasi persediaan minyak mentah AS tidak akan sebanyak pada beberapa pekan sebelumnya.

Selain itu, terhentinya pasokan minyak dari ladang-ladang minyak yang berhenti beroperasi seperti di Kanada, Nigeria dan beberapa tempat lain juga mendorong harga minyak.

Kenaikan Brent tercatat sebagai kenaikan terbesar dalam sehari perdagangan berdasarkan persentasi, dalam satu bulan ini.

Pasar bergairah ketika American Petroleum Institute (API), sebuah asosiasi industri, mengatakan persediaan minyak mentah di AS naik 3,45 juta barel untuk mencatatkan rekor tertinggi 543,1 juta barel sepanjang pekan yang berakhir 6 Mei.

Sementara dari hasil polling analis oleh Reuters, persediaan yang bertambah hanya sebanyak 714.000 barel.

Oleh sebab itu, para pedagang (trader) dan investor akan mencermati data rsmi dari Energy Information Administration AS (EIA) yang akan dirilis Rabu (11/5/2016) waktu setempat atau Kamis (12/5/2016) WIB.

"Kami harus kembali melepas kenaikan hari ini jika data EIA mengkonfirmasi estimasi API, atau bahkan dengan jumlah yang lebih besar lagi," kata Tariq Zahir, trader minyak mentah dan juga managing partner di Tyche Capital Advisors di New York.

Brent LCOc1 naik 1,89 dollar AS per barel atau naik 4,3 persen menjadi 45,52 dollar AS per barel. Lebih dari 6.000 kontrak perdagangan Brent dilakukan di akhir sesi perdagangan, berdasarkan data Reuters.

Sementara minyak mentah AS, West Texas Intermediate CLc1 pada perdagangan berjangka naik 2,8 persen untuk bertahan di 44,66 dollar AS per barel.

Brent dan WTI sama-sama tergelincir pada tengah sesi perdagangan gara-gara data API. Namun di akhir sesi kembali naik, lebih karena kekhawatiran habisnya persediaan akibat berhentinya produksi minyak di sejumlah negara.

Seperti diketahui, kebakaran hebat yang melanda Kanada membuat ladang minyak di negara tetangga AS tersebut harus tutup. Sehingga produksi lebih dari 1 juta barel per hari juga terhenti.

Royal Dutch Shell Plc jadi perusahaan minyak pertama yang merevisi jumlah produksi di area tersebut pada Selasa, sementara perusahaan minyak lain menempuh jalan berhenti sementara sepanjang pekan ini.

Di Nigeria, serangan terhadap infrastruktur minyak mendorong produksi minyak negara ini mencapai yang terendah dalam 22 tahun. padahal, Nigeria adalah produsen minyak terbesar di Afrika.

Data Reuters menunjukan, rebound harga minyak kali ini menjadi yang terkuat sejak krisis finansial. Harga reli hampir 80 persen sejak harga minyak di bawah 30 dollar AS per barel di kuartal I 2016.

Kenaikan harga juga ditopang melambatnya produksi minyak di AS dan di Libya. Serta melemahnya nilai tukar dollar AS. Sejak akhir April, reli harga d kisaran 45 dollar AS per barel. (gram/kmps)
View

Related

EKBIS 4842428873800091178

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item