Ada Makelar dalam Kasus Suap Podomoro

JAKARTA, BLOKBERITA -- Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohamad Sanusi menyebut ada orang yang menjadi perantara (makelar) dengan pihak PT Agung Podomoro Land. 
Hal tersebut dikatakan pengacaranya Krisna Murti usai menemui Sanusi di Polres Jakarta Selatan, Jakarta, Sabtu (2/4/2016) petang.

" Dia punya hubungan kekerabatan yang cukup erat dengan eksekutif," ujar Krisna.
Krisna mengatakan, Sanusi sudah menyampaikan keterangan ini ke penyidik KPK dalam pemeriksaan pada Jumat malam.

Dalam pemeriksaan di KPK, Sanusi menyampaikan orang itulah yang mengatur pertemuan antara dirinya dengan bos PT Agung Podomoro Land, dengan pejabat Pemprov DKI, hingga pertemuan dengan sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta.

Bahkan, orang itu juga turut andil dalam mengatur jumlah uang yang harus diserahkan ke pihak DPRD DKI Jakarta, termasuk ke Sanusi.

Sanusi juga menyebutkan orang tersebut berasal dari pihak swasta. Namun, ia mengelak saat ditanya orang yang dimaksud dan pejabat yang menjadi kerabatnya. Ia hanya menegaskan, orang tersebut layak diperiksa oleh penyidik KPK dan dimintai pertanggungjawaban.

" Karena sering koordinasi dengan orang ini, orang yang menjembatani pihak swasta, pihak eksekutif, pihak legislatif. Nah, orang inilah yang mengatur dari semua-semuanya," katanya.

Sanusi menjadi tersangka setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) saat menerima suap miliaran rupiah dari pihak PT Agung Podomoro Land terkait pemulusan pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) reklamasi teluk Jakarta. Dalam kasus tersebut, KPK juga menetapkan Presiden Direkyur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja sebagai tersangka.     

Tidur Tanpa Kasur

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohamad Sanusi, kini mendekam di tahanan Polres Jakarta Selatan setelah terjerat dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (31/3/2016).

Wakapolres Jakarta Selatan, AKBP Surawan, mengatakan di tahanan tidak ada perlakuan khusus untuk Sanusi yang selama ini terkenal dengan gaya hidupnya yang mewah. 

" Sama saja seperti yang lain, tidak ada yang khusus, ada beberapa tahanan KPK yang lain juga," kata Surawan, Sabtu (3/4/2016). 

Surawan tidak menyebutkan kondisi tahanan, tetapi ia membenarkan bahwa Sanusi hanya tidur menggunakan alas biasa, tanpa kasur. 

" Ya tidur di alas saja, kamar mandi juga ada, sama pokoknya seperti yang lain," ujar Surawan.
Tribunnews sebelumnya melaporkan bahwa Sanusi tidur beralaskan tripleks. "Sanusi di kamar sendiri. Nggak ada perlakuan khusus. Alas tidur cuma ada triplek, kasur untuk alas atasnya nggak ada. Tapi, kita kasih kebijakan bisa dibawakan oleh keluarga," kata sumber di Polres Jaksel yang dikutip Tribun.

Sanusi dilaporkan menempati sel berukuran sekitar 2,5x3 meter persegi. "Kipas angin nggak ada. Toilet di dalam ada. Lemari pakaian juga nggak ada. Kalau pakaian yah digeletakkan aja di lantai," kata sumber itu tentang fasilitas kamar yang ditempati Sanusi.

AKBP Surawan mengatakan bahwa pihaknya memperbolehkan keluarga untuk membawa perlengkapan atau barang-barang yang dibutuhkan.

Pada Sabtu pagi, keluarga Sanusi tampak datang membawakan sejumlah alat untuk bersih-bersih buat anggota DPRD DKI Jakarta tersebut. Mereka terlibat membawa kasur lipat, kipas angin, kain pel, serta sapu untuk bakal calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra itu.

Menurut Surawan, pengamanan di tahanan juga relatif normal seperti hari-hari biasa tanpa tambahan personel.
"Pengamanan seperti biasa kok, tetap aman, tidak perlu ditambah," tutup Surawan.
Mohamad Sanusi dititipkan di tahanan Polres Jaksel oleh KPK setelah dia tertangkap tangan menerima suap pada Kamis malam lalu. Ia ditahan penyidik KPK setelah menjalani pemeriksaan 1x24 jam dan ditetapkan sebagai tersangka.


[ mrbin / tribunnews / kmps ]




View

Related

HUKRIM 8796721891610800936

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item