INILAH DONATUR MILIARAN RUPIAH ISIS INDONESIA

BLOKBERITA -- Uang miliaran rupiah dari Suriah masuk Indonesia. Berdasarkan penelusuran Detasemen Khusus 88 Kepolisian RI (Densus 88 Antiteror), uang itu bermuara pada Bahrumsyah dan Bahrun Naim. Uang tersebut diduga digunakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Indonesia untuk aksi teror.

Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo telah ditetapkan polisi sebagai tersangka otak di balik teror bom di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016.

Data Densus, Bahrun mengirim uang Rp 40-70 juta, tidak lama sebelum pengeboman terjadi. Pengiriman dilakukan secara bertahap.

Densus saat ini masih memeriksa ratusan rekening yang diduga milik jaringan teroris, termasuk rekening Bahrun Naim. Daftar rekening itu berasal dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Kami masih menelusuri aliran-aliran uang lainnya," ujar sebuah sumber di Densus 88.

Penelusuran terhadap si empunya rekening sangat penting untuk mengetahui aliran uang jaringan teroris pendukung ISIS yang ada di Indonesia.

Bahrun Naim tidak hanya dikaitkan dengan bom Jalan M.H. Thamrin. Berdasarkan temuan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Bahrun diketahui pernah mentransfer dana untuk membuat bom mobil kepada kelompok pendukung ISIS di Solo, Jawa Tengah, di bawah pimpinan Ibad Durrahman dan Arif Hidayatullah.

Serangan hendak dilakukan pada 17 Agustus 2015, tapi digagalkan polisi dan Ibad ditangkap. Bahrun kemudian mengirim uang lebih banyak lagi kepada Arif sekitar September 2015. Uang itu hendak dipakai untuk membeli bahan peledak serta melakukan pelatihan.

Target kelompok ini berubah-ubah, dari awalnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti, sampai Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian. Namun rencana serangan itu juga digagalkan polisi setelah Arif dibekuk.

Bukan hanya Bahrun, Bahrumsyah juga mentransfer uang sekitar Rp 1 miliar kepada Hendro Fernando alias Edo Aliando untuk mendukung “jihad” teroris di Indonesia. Bahrumsyah mengirimkan lagi dana Rp 10 juta dan Rp 12 juta kepada Hendro guna pembelian senjata di LP Tangerang.

Sekitar Juni 2015, Bahrumsyah menggelontorkan dana untuk Mujahidin Indonesia Timur di Poso pimpinan Santoso. Ia juga mengalirkan dana dari Suriah ke Ansharul Khilafah Filipina (AKP). Uang itu dikirimkan ke rekening Said Alsree, istri Sucipto Ibrahim Ali, pemimpin AKP.

Bahrumsyah mendapatkan akses dana langsung dari ISIS pusat di bawah komando Abu Bakar al-Baghdadi. Ini karena posisi Bahrumsyah adalah komandan Katibah Nusantara, kelompok pasukan ISIS yang berasal dari kawasan Asia Tenggara.

Nah, khusus dari Bahrun Naim, menurut sumber di Densus 88, selain dari Daulah Islamiyah (ISIS), dana tersebut terindikasi kuat merupakan hasil carding alias pembobolan kartu kredit. "Jadi Bahrun mendapatkan uang dari kelompok ISIS di Suriah, sementara uang yang dikirim kepada jaringannya di Indonesia merupakan hasil carding," ujarnya.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, tidak meragukan dana yang dikirim Bahrun berasal dari pembobolan kartu kredit. Sebab, Bahrun pernah mempublikasikan nama-nama korbannya di situs Muharridh.com.

Menurut Ridlwan, korban alumnus Diploma III Ilmu Komputer Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, itu berasal dari Australia, Inggris, dan Indonesia. Targetnya acak, bukan pemilik akun tertentu. Berapa pun uang yang ada disedot hingga nol. "Bahrun Naim termasuk expert (ahli)," katanya.

Salah satu teroris di Indonesia yang tertangkap, kata Ridlwan, mengaku menerima uang dari Bahrun melalui PayPall dan bitcoin. Bahrun pulalah yang mengajari orang tersebut cara mencairkan dan mentransfernya.

Perintah pencairan uang itu pun tidak dilakukan lewat cara biasa. Melalui Muharridh.com, Bahrun Naim mentransmisikan sebuah gambar. Ketika dilakukan decoding (penguraian kode), pada gambar itu muncul naskah teks perintah. "Itu perintah pencairan dana," kata Ridlwan.

Situs milik Bahrun Naim itu muncul kembali pada 24 Desember 2015 setelah diblokir. Ia memuat daftar akun PayPall dan kartu kredit dengan saldo US$ 0. Agaknya hal itu dilakukan Bahrun Naim untuk menyindir polisi, yang menganggap situsnya cuma spam.

Selain itu, untuk berkomunikasi, Bahrun dkk selangkah lebih maju dibanding aparat. Sebut saja percakapan mereka lewat aplikasi Telegram Channel. Meski percakapan tersebut disadap, Internet protocol dan posisi telepon seluler tidak terlacak. "Bahrun ini ikon ‘jihad’ IT di Indonesia," ujarnya.

Pengumpulan dana melalui kejahatan di dunia maya (cyber fai), menurut Ridlwan, sebetulnya sudah lama dilakukan para teroris. Ia mencontohkan tersangka kasus Bom Cirebon, Rizki, pernah meretas (hack) situs multilevel marketing (MLM) di Malaysia dan membobol dana hingga Rp 1,3 miliar.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai dalam bukunya, Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia, mengungkapkan, pelatihan militer di Poso kelompok Abu Umar (almarhum) didanai Rp 7 miliar. Dana itu merupakan hasil meretas situs investasi online SpeedLine.

Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menolak mengungkapkan transaksi-transaksi mencurigakan terkait dengan terorisme, khususnya ISIS. Namun, menurut dia, rekening yang dipakai untuk transaksi biasanya bukan milik mereka sendiri.

"Mereka membeli rekening orang lain. Jadi saldo tabungan Rp 100 ribu dibeli Rp 2 juta. Kan, pasti orangnya memberikan. Buku tabungan plus kartu ATM diserahkan, sehingga mereka (pelaku teroris) tidak perlu datang ke bank," katanya.

Agus menambahkan, selain untuk aksi teror dan pelatihan, dana-dana terorisme dipakai untuk memberangkatkan anggota ke medan “jihad” di Irak dan Suriah. "Juga untuk menyantuni janda-janda teroris. Atau suami-suami yang ditahan, istrinya disantuni," ujar Agus.

[ mrbin/dtc ]






View

Related

OPINI 8455082177122670856

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item