Rupiah dan IHSG Kembali Melemah

BLOKBERITA – Bila pemerintah terus saja sibuk dengan persoalan politik, mungkin Pemerintah sudah berprinsip Que Sera Sera terhadap rupiah dan IHSG.

Rupiah dalam beberapa hari ini kembali melemah terhadap dolar AS. Di akhir minggu ini, berdasarkan kurs Bloomberg, dolar AS berada di level Rp 13.992. Selama satu bulan penuh, mata uang garuda mengalami pelemahan 2,9%.

Dibandingkan dengan mata uang negara utama ASEAN lainnya, rupiah selama satu bulan penuh ini mengalami penurunan paling dalam terhadap dolar AS. Bath Thailand melemah 0,6%, peso Filpina melemah 0,4%, dolar Singapura tidak berubah, sedangkan ringgit Malaysia justru mengalami kenaikan 1,6%.

Bagaimana rupiah tidak semakin terperorosok bila data ekonomi semakin memburuk. Defisit anggaran diperkirakan mendekati – bahkan bukan tidak mungkin – melewati batas 3%. Bila sampai defisit anggaran melewati 3%, artinya Pemerintah melanggar Undang-undang Keuangan Negara Nomor 17 tahun 2003. Padahal, dalam APBN-P 2015 dengan sombongnya Pemerintah hanya menargetkan defisit anggaran dikisaran 1,9%.

Melebarnya defisit anggaran karena ketidakmampuan pemerintah merealisasikan target pendapatan pajak. Sampai akhir tahun, Mantan Direktur Jendral Pajak, Sigit Pramudito memperkirakan bahwa penerimaan pajak hanya akan mencapai 80%-82% dari target pajak APBN-P 2015 sebesar Rp 1.294 triliun.

Selain itu, nilai ekspor kita semakin hari semakin menurun. Akibat semakin melemahnya harga-harga komoditas andalan ekspor. Seperti kelapa sawit dan batu bara. Dan tampaknya, ekspor kita akan semakin suram, karena harga komoditas dalam beberapa hari ini semakin longsor harganya. Lihat saja, minyak jenis west texas intermediate (WTI) telah menembus level terendah dalam enam tahun ke belakang. WTI berdasarkan data dari Bloomberg, akhir minggu ini hanya dihargai US$ 36,6 per barel. Karena harga minyak berkorelasi positif dengan harga kelapa sawit dan batu bara, sudah pasti longsornya harga minyak internasional akan semakin menggerus harga kelapa sawit dan batu bara.

Selain itu, defisitnya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) semakin memperkokoh buruknya pengelolaan devisa bangsa ini. Akibatnya, wajar saja bila cadangan devisa terus menurun sampai mendekati angka psikologisnya. Posisi cadangan devisa di akhir bulan November tahun ini berada di US$ 100,2 miliar. Melihat gelagat pergerakan rupiah seperti ini dapat dipastikan cadangan devisa akhir tahun 2015, sudah di bawah US$ 100 miliar atau melewati angka psikologis.

Senasib dengan rupiah, IHSG dalam satu bulan penuh ini juga mengalami penurunan sebesar 4,4%. Penurunan IHSG dipicu oleh semakin rendahnya harga saham-saham berbasis komoditas. Investor melepas saham saham komoditas karena memperkirakan pendapatan mereka akan semakin tergerus.

Turunnya IHSG seirama dengan semakin malasnya investor asing memegang saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama satu tahun, investor asing telah menjual saham sebesar Rp 22,7 triliun. Investor asing sepertinya beranggapan berinvestasi di BEI sudah tidak lagi memberikan harapan keuntungan.

Selain faktor ekonomi, faktor politik juga memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah dan IHSG. Kasus, papa minta saham membuat suhu politik kembali memanas. Selain itu, kasus tersebut menunjukkan maraknya pemburuan rente ekonomi dan tingginya tingkat ketidakpastian berinvestasi di Indonesia.

Minggu depan kembali rupiah dan IHSG akan menghadapi tantangan, yaitu hasil keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Memang masih sulit untuk memastikan apakah hasil keputusan FOMC akan menaikkan suku bunga acuan atau kembali mempertahankannya.

Kalau keputusan FOMC suku bunga acuan AS dinaikkan kemungkinan rupiah dan IHSG semakin melorot. Dan bila pemerintah terus saja sibuk dengan persoalan politik, mungkin Pemerintah sudah berprinsip Que Sera Sera terhadap rupiah dan IHSG.  (hbd/inrev)
View

Related

BURSA 2956703376099446302

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item