Bagaimana Cara ISIS Masuk ke Indonesia ?

BLOKBERITA  Para pendukung simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Islamic State (IS) di Indonesia dinilai memiliki metode baru dalam gerakan dan penyebaran ajaran mereka. Warga Indonesia yang berafiliasi terhadap ISIS akan bergerak melalui sistem sel.

“ Mereka sedang mempelajari sistem sel sekarang, yakni mereka tidak harus terhubung langsung dengan pusat IS. Namun bergantung pada tingkat militansi individu di luar wilayah IS, seperti Indonesia,” kata pengamat kontra-terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, saat dihubungi Tempo, Sabtu, 12 Desember 2015.

Harits mengungkapkan, para anggota ISIS bisa melakukan amaliyat (pergerakan) secara mandiri atau berfusi dengan beberapa orang dalam sistem sel. “Itu sebagai bentuk loyalitas dan manifestasi baiat kepada IS,” ujarnya.

Apalagi kalau ada ultimatum dari luar, misalkan dari juri bicara atau narasumber resmi ISIS, para pendukung yang disebut dengan ansharut daulah atau ansharut khilafah itu bisa melakukan perlawanan maksimal di tempat mereka berada. “Dari konteks seperti inilah sebenarnya potensi bahaya itu memang ada,” kata Harits.

Namun, untuk saat ini, tutur Harits, ISIS di Indonesia tengah mengalami keterbatasan dana dan senjata. “Itu kendala yang sangat membatasi mereka melakukan tindakan lebih. Di samping itu, kontrol aparat sekarang cukup ketat, terutama di imigrasi. Di-monitoring lebih banyak bergerak di bawah tanah.”

Mengapa Masuk Indonesia ?

Mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan ISIS adalah ancaman besar bagi Indonesia. Saat ini anggota ISIS di Indonesia sudah bergerilya. "Ancaman ISIS di Indonesia potensinya cukup besar. Bila Indonesia tidak mengelola dengan baik, ISIS menjadi ancaman besar Indonesia," kata Moeldoko, setelah memberikan kuliah umum inovasi dan semangat kebangsaan di Balai Sidang Universitas Indonesia, Jumat, 11 Desember 2015.

Menurut Moeldoko, ISIS masuk ke Indonesia karena pintu keluar masuk di Indonesia cukup longgar sehingga pergerakan mereka tidak cukup terawasi. Indonesia, kata dia, menjadi pintu masuk ISIS dari negara lain karena pengawasan keamanannya rendah. Di sisi lain, negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia memperketat pengawasan sehingga mempersulit ISIS untuk masuk ke sana.

Akibatnya, ISIS makin menjadikan Indonesia negara tujuan karena pengawasan di negeri ini masih longgar. "Mereka yang tergabung karena tidak bisa masuk ke negaranya bisa lari ke Indonesia yang masih longgar pengawasannya dan payung hukumnya," ucapnya.

Malaysia, misalnya, meningkatkan sistem keamanan yang baik dan aparat keamanan sudah bisa dikerahkan dengan efektif untuk menangkap lebih terduga teroris. Karenanya, ISIS susah masuk ke sana.

Sedangkan Indonesia pengawasannya masih longgar sehingga memancing para teroris masuk. Moeldoko lantas memberikan contoh teroris Noordin Mohammad Top yang datang ke Indonesia karena pengawasannya minim. Indonesia belum mempunyai kewaspadaan tinggi. Bahkan, cenderung permisif. "Mungkin karena instrumen pengawasannya kurang baik," ucapnya.

Karena itu, pengawasan dan pengamanan di pintu keluar serta masuk Indonesia mesti diperketat. "Bila tidak dikelola dengan baik. Satu langkah lagi sudah menjadi ancaman aktual."

Saat ini TNI sudah mulai memetakan orang-orang yang tergabung dalam ISIS. Orang-orang masuk dan bergabung ISIS dengan beragam alasan. Ada yang menjadi anggota karena pengaruh ideologi ISIS, ada juga yang sekadar mencari kehidupan yang baik, dan menyusul keluarga yang sudah menjadi anggota ISIS. "Karena salah satu keluarganya menjadi ISIS, mereka jadi menyebarkan ideologinya," ujarnya.

Asal Usul Dana ISIS

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan saat ini memiliki pendapatan US$ 80 juta (Rp 1,1 triliun) per bulan. Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari pajak dan penyitaan.

Dalam satu laporan baru, Pemantau Konflik IHS mengatakan, tidak seperti kelompok Al-Qaeda, ISIS tidak mengandalkan sumbangan dana asing karena mereka meraih pendapatan dari daerah yang ditawan, yaitu sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak.

Menggunakan informasi intelijen terbuka, termasuk media sosial dan sumber dalam negara konflik, IHS mengatakan, hampir separuh pendapatan ISIS datang dari pajak dan penyitaan.

Ludovico Carlino, analis senior di IHS juga tim Konflik Monitor IHS, mengatakan, ISIS "mengenakan pajak 20 persen pada semua layanan", baik itu retail, pertanian, akses internet, dan jaringan telepon seluler, tagihan listrik, atau industri lainnya.

Selain mengenakan biaya 20 persen ke semua layanan, sekitar 43 persen pendapatan adalah dari penjualan minyak dan sisanya dari penyelundupan narkoba, penjualan tenaga listrik, serta sumbangan.

"ISIS mengontrol negara, jadi mereka mengenakan pajak atas penduduk, menyita properti, meraih pendapatan dari bisnis milik pemerintah, serta hasil minyak dan gas.

"Kelompok teroris lain tidak memiliki kemampuan ini," kata analis senior IHS, Columb Strack, yang berbasis di London.

Namun IHS menambahkan, kelompok teroris terkuat di dunia itu saat ini bergelut dengan masalah keuangan akibat serangan yang menargetkan infrastruktur kawasan minyak yang dikendalikannya.

ISIS mengontrol sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak tahun lalu, menyatakan pemerintah Kalifah sendiri, dan melakukan kekejaman luas. (bin/tempo)
View

Related

REGIONAL 339211930925337042

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item