Jangan 'GR' Dulu, Rupiah Masih Fluktuatif

JAKARTA, BLOKBERITA -- Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terjadi selama sepekan belakangan ini membuat masyarakat ramai-ramai menjual USD yang dimilikinya.

Dia mengatakan, kendati penguatan mata uang Garuda belum masuk pada level harga wajar, namun keperkasaan rupiah ini sudah menciptakan kepanikan pasar jika ke depan akan semakin menguat.

"Kalau lihat harga wajar sih memang rupiah itu wajar di angka Rp11.500 sampai Rp12.500 per USD. Kemarin sampai Rp14.700 itu sudah enggak wajar. Jadi sekarang ini walaupun sudah Rp13.200 itu masih belum normal," katanya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/10/2015).

Menurutnya, penguatan ini juga disebabkan karena beberapa kebijakan pemerintah membuat spekulan mundur. Terjadi profit taking di pasar karena takut kebijakan pemerintah akan semakin membuat rupiah melonjak.

"Mereka kemarin kan ramai-ramai beli dolar waktu anjlok, nah sekarang profit taking karena takut kebijakan pemerintah bakal membuat rupiah menguat," imbuh dia.

Ditambah lagi, sambung Kiswo, orang-orang yang kemarin memburu mata uang Paman Sam kini justru melepasnya karena takut rupiah semakin menguat.

"Jadi efek bola salju lah. Kalau dulu-dulu pada beli dolar. Sekarang ramai-ramari jual dolar. Jadi ada panic sell," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rupiah dan ringgit menuju kenaikan mingguan terbaik lebih dari satu dekade atau masing-masing sejak 2001 dan 1998 karena Indonesia dan Malaysia memanfaatkan reli pasar saham, rebound harga komoditas dan tanda-tanda Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini.

Rupiah melonjak 3,8% menjadi Rp13.371/USD pada siang tadi di Jakarta, kenaikan pekan ini menjadi 9,5%. Ringgit naik 2,9% pada hari Jumat dan 7,3% sejak 2 Oktober menjadi 4,1165. Reli minggu ini terjadi setelah mata uang Malaysia dan Indonesia masing-masing kehilangan 14% dan 9% pada kuartal terakhir.

Mengecewakannya data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang mendorong kembali harapan bagi ekonomi terbesar dunia akan menaikkan biaya pinjaman memacu keuntungan di saham negara berkembang dan mata uang pekan ini dan yang diperkuat oleh rilis risalah dari pertemuan The Fed pada September lalu.

Naiknya harga minyak dan komoditas juga memberi manfaat bagi Malaysia dan Indonesia.  

[ plo / sindo ]





View

Related

EKBIS 4168101995890111957

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item