Sejenak Menyapa Hati dan Diri, Dalam Keagungan dan Kefitrian Ramadhan



BLOKBERITA --  Krisis moral dan kemanusiaan yang sedang mendera umat manusia di dunia, khususnya Indonesia - sebagaimana keprihatinan yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Buya Syafii Maarif beberapa waktu lalu terjadi karena telah matinya hati nurani sebagai pribadi maupun bangsa . Egosentris pribadi dan golongan, kerakusan dan kekuasaan kepada duniawi yang tak akan pernah berujung batas itu telah menjauhkan manusia dari Sang Khaliqnya. Jauh dari keluhuran budi dan cinta sesama sebagai makhluk Tuhan. Pluralitas Sara menjadi ajang dan dasar pertikaian bangsa yang kian masif. Kenapa itu semua terjadi ? Karena telah sirnanya ruh cinta dan kemanusiaan di hati manusia. Lewat Kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib yang pernah bergaung di jagad sastra Indonesia pada era 70 hingga 80-an ini semoga bisa menyentuh dan menyadarkan kembali kejumudan dan kebodohan kita sebagai manusia selama ini. Memasuki akhir bulan Ramadhan ini marilah kita hening dan tafakur sejenak mencari maghfiroh dan hidayah Illahi agar ke depan nanti kita bisa lebih jernih, bening, tenang, matang, dan adil dalam menyikapi berbagai probem kehidupan ini. Selamat menghayati dan mengamalkan tahajud cinta seorang hamba kepada 'kekasihnya':

ISLAM ADALAH

Bila sebuah batu tergeletak dijalan
Dan ia membahayakan pemakai jalan
Anda memungutnya, dan mencari seseorang untuk membahas
Apa yang dapat kita perbuat agar batu tersebut bermanfaat.
Itulah Islam

Islam adalah
untuk menjaga kesuburan tiap sudut tanah
Untuk mengagumi gunung dan laut yang luas,
Atau sekedar untuk menyiram tanaman,
Untuk berenang dalam air sambil bersyukur kepada Allah
Atau untuk menghirup udara dengan kerinduan untuk bertemu dengan Allah

Islam adalah, Bila ada satu mahkluk sedang kelaparan
Walau ia hanya seekor anjing.
Anda merasa tidak enak karena kenyang seorang diri
Maka Anda lalu belajar untuk merasakan lapar,
Sebelum anda merasa layak disebut sebagai saudara oleh orang-orang lapar

Islam adalah,
Ketika seseorang merasa haus
Bahkan bila ia adalah orang yang akan membunuh anda
Anda merasakan kehausannya
Dan berbagi air anda dengannya

Islam adalah,
Ketika anda melihat seseorang dipinggirkan dan merasa sendirian
Anda menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya 

Islam adalah,
Mencintai bahkan orang-orang yang membenci anda
Dan memuji dengan bijak
Seseorang yang menganggap anda sebagai musuhnya

Islam adalah,
Komunitas yang berdamai dengan alam,
Sungai dan hutan, air dan daratan, gunung dan lautan
Yang mereka cintai seolah-olah istri-istri mereka sendiri
Menjaga kesuburannya semata-mata dengan cinta

Islam adalah,
Sebuah pemerintah yang menganggap rakyatnya sebagai seorang isteri,
Saling menyayangi, bekerjasama
dengan keseimbangan kekuasaan antara yang satu dengan yang lain,

Islam adalah,
Keadaan dimana si kuat memahami pentingnya si lemah
Dan si lemah tidak menikmati kelemahan dan ketergantungannya.

Salam berarti perdamaian
Islam berarti upaya mencari, membangun dan menciptakan perdamaian

Humanitas Islam berarti pengertian untuk saling memanusiakan satu sama lain
Budaya Islam adalah kedamaian fikiran dan hati

Perekonomian Islam berarti tak seorangpun kekurangan gizi dan tak seorangpun kelebihan gizi.
Politik Islam berarti demokrasi sejati dan jujur
Filosofi Islam adalah kesimbangan antara hak-hak azasi dan kewajiban-kewajiban azasi manusia
Salam berarti perdamaian

Islam berarti pembebasan menuju perdamaian
Islam berarti kerja emansipasi menuju kehidupan yang penuh kedamaian bagi semua manusia.


TAHAJUD CINTAKU

Maha anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Maha agung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

Maha anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya

1988
 

SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA

Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu
Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati
Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkannama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya
Lima
Masjid ruh kita baw ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita
Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya
Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat
Delapan
Bahkan seribu masjid, sjuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah
Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!
1987.



BEGITU ENGKAU BERSUJUD



Begitu engkau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki
alam makrifat
Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
adzan
Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid
1987


KETIKA ENGKAU BERSEMBAYANG
Ketika engkau bersembayang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar
Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya
Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis
Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali
Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya
Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun
Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan
1987



DITANYAKAN KEPADANYA
Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah berkata
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah penindas
Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
Burung Allah tak sedia bunuh diri
Maka berdusta ia
Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
Ialah air yang mengalir ke angkasa
Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
Maka berdusta ia
Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
Orang harus menggertak jiwanya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah pedagang penyihir
Ialah kijang kencana berlari di atas air
Orang harus meninggalkannya
Agar tak berdusta ia
Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
Agar tak berdusta ia
Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
Nyanyikan puisi di telinganya
Agar tak berdusta ia
1988
 

NOCTURNO

Tuhan si anak kenangan berbaring di cakrawala selatan
Tuhan si anak kenangan berloncatan di atas bintang-bintang
Tuhan si anak kenangan berebut masuk keluar pernapasan
Tuhan si anak kenangan tak meleleh di pucuk dendam
Tuhan si anak kenangan terjatuh !
                                                             : dalam bayang- bayang
“ Selamat malam!
            O, si buah angan
Selamat malam!
            O, si Anak Hilang ! ”
1975



SAJAK JATUH CINTA

Karena ini bunga
Maka ciumlah dengan bening jiwa

Karena ini sajak
Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak

            Gugusan mendung yang ranum
            Menggugurkan hujan ke bumi
            Dari langit jauh Engkau bagai telah turun
            Pada air, tanah, serta pada sunyi

            Kemudian senyap sesaat
            Tuhan melintaskan syafaat
            Kemudian daun-daun bersijingkat
            Dalam pesona memikat

Karena ini bunga, dik
Maka ciumlah dengan bening jiwa

Karena ini sajak, dik
Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak

1975
 


APAKAH PUISI-PUISI INI

Apakah puisi-puisi ini
Jelmaan roh-Mu, Tuhanku
Sehingga aku merasa bahagia
Jika bergaul dengannya

Ia selalu membuka ruang
Hingga aku setia pada kemungkinan
Ia adalah sembahyang
Yang penuh kemerdekaan

Tuhan, di antara sekian cara hidup
Agama dan peraturan-peraturan
Puisi memberi keikhlasan
Kepada apa pun yang Kaulakukan

Yogya 77



SAJAK REMBULAN

Demi rembulan yang Engkau ciptakan
Khusus untuk memulangkan diriku
Kepada kumandang tangis bayi, yang telanjang
Yang hening lagunya bergaung
Ke ladang-ladang jiwa
Yang meripatnya bening
Dan yang semua geraknya
Dibimbing
Oleh kegaiban

Demi rembulan di larut malam
Yang bagai kereta kencana
Ditarik oleh kuda siluman
Yang bangkit dari cakrawala
Yang bangkit begitu saja
Berderap
Perlahan
Dan menciptakan gemuruh
Dalam kediaman

Demi rembulan yang Engkau ciptakan
Untuk mengusap kening jiwa yang berabad menangis
Jiwa Adam
Rintih kerinduan
Yang mencegatnya di ujung jalan
Dan yang mencegatku kini
Dalam derita dan keasingan
Yang terus menjelma
Yang mengawali setiap pekik kelahiran
Dan yang terus berkembang dalam kenangan

Demi rembulan yang bagai pejalan sunyi
Menjelajah seluruh malam
Sehingga terciptalah dunia dan kehidupan
Dari angin, embun dan dedaunan
Yang berkilat
Karena cahayanya
Yang seakan mengisyaratkan harapan
Bagi kerinduanku nantinya

Ah, Tuhan!
Demi rembulan yang Engkau ciptakan
Buat menggoda!
Di semak-semak ini
Di hutan gelap yang tercipta
Dalam gaung jiwa
Dalam gelegak samudera
Dalam gelegak darahku
Yang letih
Dan maya

                        : kutikamkan pisau ini
                          ke dadaku!

(terimalah
semangatku
reguklah
cintaku!)
75.

Puasa, Setan, dan Gempa

PUASA itu melatih "tidak" karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan "ya". Sekurang-kurangnya mengendalikan "ya". Mental manusia lebih berpihak pada "melampiaskan" dibanding "mengendalikan".

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan.

Bahkan idiom "kemerdekaan" kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan "pelampiasan". Maka Ramadhan menjadi sangat penting untuk melatih "tidak" itu.

Bukan hanya tak makan tak minum tak banyak omong dan lain sebagainya, tapi juga berbagai macam "tidak" yang lain coba dilatihkan selama bulan Ramadhan. Termasuk "tidak" ribut, riuh rendah, gebyar-gemebyar, melonjak-lonjak, berjoget-joget. Puasa mungkin juga merupakan perjalanan memasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan nikmatnya.

Dunia dan Indonesia sudah selalu ribut, dan begitu memasuki Ramadhan: semakin ribut keadaan. Modal keuangan dan alat perniagaan yang membuat apa saja menjadi komoditas semakin jadi pengeras suara dari keributan itu.
 
Penderitaan diributkan bukan oleh orang-orang yang menderita, tetapi oleh saudagar-saudagar penderitaan yang menjualnya sana sini dengan keributan statement, opini, dan asumsi, sambil menempuh strategi jangan sampai ada solusi. Wakil Presiden ribut terus kapan saja dan tentang apa saja. Jakarta ribut ingin menyulap dirinya menjadi Singapura yang metropolitan.

Bagi yang memasuki Ramadhan dengan mencoba menyelinap memasuki bilik "swaraning asepi" atau dunia "kasyful hijab", mungkin mereka mulai belajar membuka telinga batin sehingga terdengar suara-suara setan dan Iblis. Kalau suara Allah, para rasul dan nabi, atau auliya' –anggaplah kita kurang cukup bersih untuk bersentuhan dengan frekuensi itu. Mendengar suara setan saja alhamdulillah rasanya.

Suara setan beberapa waktu yang lalu yang saya dengar adalah ketika ada pentas monolog teater yang berjudul "Mencari Tuhan". Setan itu dengan beberapa rekannya tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang bahkan sampai badannya terguling-guling.

Salah satu setan bilang: "Kasihaaan deh lu Tuhan….. ratusan abad Kau ciptakan mereka, memasuki abad ke 21 sejak lahirnya Isa Nabi-Mu, dan entah berapa ratus abad yang lalu kau angkat manusia sebagai khalifah-Mu, mandataris-Mu di bumi sejak Adam yang ilmu ekogenetika manusia sudah membuktikannya bahwa ia manusia pertama: tiba-tiba hari ini mereka memberi pernyataan bahwa mereka sedang mencari-Mu….. Lha selama ini Tuhan ke mana kok sampai dicari-cari oleh mandatarisnya sendiri? Lha para mandataris yang hebat-hebat itu selama ini ngeloyor ke mana saja kok baru sekarang mencari Tuhan? Lho setelah 100 abad menjadi mandataris kok baru mencari siapa dan di mana Sang Pemberi Mandatnya?….."

Komunitas setan belang bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang sampai basah seluruh badannya oleh lelehan air mata.

Menjelang hari pertama Ramadhan ini saya mendengar rombongan setan itu sengaja wira-wiri di sekitar saya dan ngomong aneh-aneh seperti itu. "Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu? Wong namanya saja puasa kok ribut. Anggaran belanja makanan minuman keluarga-keluarga kaum pelaku puasa malah lebih meningkat dibanding hari-hari tak puasa. Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, mebel puasa, soto rawon puasa, kolak getuk puasa…."
Dan ketika gempa mengguncang Bengkulu, Jambi, Padang, punggung bawah Pulau Sumatera – kejadian yang dulu diramalkan sudah seharusnya terjadi sekitar setahun lalu – Setan itu langsung nyerocos lagi: "Gempa datang untuk mencoba melawan ributnya suara Ramadhan, komoditas Ramadhan, industri Ramadhan, eksistensi dan vokalisme taushiyah Ramadhan…. Tapi berani taruhan bahwa gempa yang diizinkan Tuhan untuk terjadi di malam pertama memasuki Ramadhan itu tak akan mampu mengalahkan riuh rendahnya budaya industri Ramadhan!"

Setan lain bereaksi: "Bukankah itu mencerminkan suksesnya misi-visi kita kaum setan atas kehidupan manusia?" Setan yang pertama menjawab: "Untuk melakukan keributan-keributan perusak kekhusyukan Ramadhan, bulan privatnya Allah itu, umat manusia tidak memerlukan pengaruh atau provokasi kita para setan. Mohon kita akui dengan kebesaran jiwa bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak hidup manusia."

Setan yang ketiga menimpali: "Manusia itu tolol. Untuk tidak mencuri dan mabuk mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri dengan nurani dan akal sehatnya. Untuk tidak korupsi dan menindas rakyat mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun belum tentu mereka patuhi. Jadi untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak diperlukan setan dan Iblis. Mereka sudah matang dan dewasa dan canggih menjalankan sistem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri. Meski Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi dan sepadan dengan tsunami di zaman Nabi Nuh dan Firaun, meskipun gunung-gunung diledakkan, meskipun gempa disebar, meskipun tanah bumi diretak-retakkan: manusia sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem kebersamaannya untuk belajar dari bencana-bencana itu. Setiap bencana hanya melahirkan tiga bersaudara: politisasi bencana, komodifikasi bencana, dan wisata bencana…… Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadhan…."

Saya termangu-mangu dan menjadi ragu sendiri: itu semua kata-kata setan atau malaikat atau isyarat dari Tuhan sendiri ?  (Caknun) .


Memaknai Puasa Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan, selamat datang wahai Ramadhan! Bulan suci penuh berkah yang semestinya diisi dengan memperbanyak tadarus, sedekah, iktikaf, dan berbagai ibadah serta amal kebajikan. Disempurnakan dengan zakat fitrah di akhir Ramadhan. Kenyataannya banyak pihak yang menyiakan-nyiakan makna bulan suci ini. Bulan puasa malah diisi dengan begadang menonton pelawak semalam suntuk di layar televisi.

Pengusaha layak diakui sebagai pihak yang paling sigap merancang dan menayangkan iklan, poster, atau neon sign di televisi, plaza pertokoan, serta jembatan penyeberangan dalam menyambut bulan puasa bagi umat Islam. Bukan sekadar ucapan, mereka juga memutar musik dan lagu religius di toko dan food court alias pujasera. Ramadhan malah diisi dengan keriuhan, kebisingan, dendang, dan rendang.

Para 'Aa' dan 'Mamah' jauh lebih sibuk melayani program "siraman rohani" di layar TV atau acara buka bersama. Perusahaan memacu target produksi memenuhi stok Lebaran. Karyawan bekerja lebih keras demi bonus. Para buruh harap-harap cemas memikirkan THR yang kerap telat atau batal dibayar majikan. Tukang ojek, tukang "ngobyek", hingga penganggur dikejar gemuruh tuntutan Lebaran yang tak terelakkan.

Ketika problem ekonomi mengimpit, Lebaran malah menjadi momok yang menakutkan. Banyak kalangan memaknai secara keliru bulan puasa. Kepahitan sosial akibat kebutuhan logistik yang melambung harganya mengharu-biru jiwa kaum marginal di tengah kota hingga perkampungan terpencil. Lebih dari 11 bulan lainnya, pada bulan khusus ini mereka tak sempatnyepi dalam batin karena uang mesti dikejar lebih kencang.

Sementara itu, kelas menengah perkotaan punya ritual khas: buka bersama di hotel yang diisi ceramah dai kondang dan ditutup dengan hidangan lezat berlimpah. Lapar sesiang disudahi dengan kudapan manis dan kuliner seronok: sangat pas sebagai penunjang renungan tentang sufi Abad Pertengahan yang melantunkan cinta kepada Ilahi.

Tiada penghayatan nyata bahwa tasawuf adalah akhlak dan pengendalian total hawa nafsu. Yang dinikmati semata-mata puisi mabuk cinta hingga terbit kagum pada diri sendiri betapa mudah tumbuhnya rindu menyatu dengan Ilahi. Sekejap mata, diri ini serasa setara wali.

Padahal, puasa bukan drama romantis. Alkisah, Fatimah putri Rasul beserta suami dan kedua putranya tengah menanti waktu berbuka dengan masing-masing sepotong roti dan semangkuk susu. Terdengar pintu diketuk oleh seseorang yang mengaku lapar. Dengan serta-merta roti dan susu diserahkan kepada pengemis itu. Mereka pun berbuka puasa hanya dengan air putih hingga wajah kedua anak mereka memucat pada hari ketiga.

Hakekat Puasa 

Ramadhan memang fenomenal. Berbusa-busa ustaz mengingatkan pentingnya itikaf di masjid. Tetapi Ramadhan malah dipenuhi ingar- bingar musik dan lawakan di layar TV hingga subuh. Kisah Jalaluddin Rumi yang mengisi malam-malamnya pada musim dingin dengan munajat hingga air mata dan janggutnya membeku tak menyadarkan kita bahwa itu bukan fiksi dan untuk menapaki jalan sang sufi kita wajib menjemput rasa sakit yang sama.

Beberapa tahun yang silam saya pernah mengikuti perjalanan dua lelaki Jawa tradisional penghayat kebatinan kejawen dalam dua kesempatan berbeda. Yang pertama di Jawa Timur; yang kedua di Jawa Tengah. Dari mereka saya mengenal religi Jawa yang tua. Keduanya satu pemahaman bahwa kontak spiritual dengan pengayom Tanah Jawa di alam gaib tidak dapat dilakukan sepanjang Ramadhan. Sebab, pada bulan tersebut para badan alus menarik diri untuk memusatkan cipta, rasa, dan karsa hanya kepada Yang Maha Tunggal.

Umat Hindu Bali memaknai hari raya Nyepi sebagai penyucian bhuwana agungdan bhuwana alit (makrokosmos dan mikrokosmos) demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin, kehidupan yang berlandaskan kebenaran (satyam), kesucian (sivam), dan keharmonisan (sundaram). Sesuai hakikat itu, mereka melaksanakan tapa, yoga, dan semadi, yang intinya tak mengobarkan hawa nafsu, melakukan penyucian rohani, mawas diri, dan tak mengumbar kesenangan: hanya memusatkan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Seyogianya referensi itu mengisyaratkan agar kita mendalami hakikat makna Ramadhan. Saya pernah mendapati seorang Muslim yang menghayati ilmu karuhun di suatu perkampungan di Jawa Barat membuat ruang bawah tanah di rumahnya. Fungsi kamar itu, menurut dia, sebagai sarana untuk mencapai puasa yang sempurna. Puasa, seperti kita tahu, tak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga dari berbagai keinginan tak senonoh yang menyalahi hukum Tuhan. Ruang khalwat bawah tanah untuk menempa diri juga digunakan oleh Sunan Drajat, yang situsnya terdapat di Lamongan, Jawa Timur.

Tersesat Dari Tujuan

Alangkah mudah mencibir mereka yang memilih lapar selama tiga hari berturut-turut karena bersedekah kepada fakir miskin. Seberapa lapang dada dan toleransi kita kepada umat agama lain? Betapa enteng menebar sinisme terhadap konsep religi yang dihayati nenek moyang di Nusantara, padahal kita tak tahu hakikatnya.

Begitu lekasnya kita menuduh Wali Sanga telah mencampuradukkan ajaran Islam dengan berbagai khurafat tanpa mendalami substansi aspek-aspek kemanusiaan kita sendiri. Sinisme dan kecongkakan itu, tak lain, terbit dari kebodohan. Kita menafikan kelemahan manusiawi, lantas melecehkan metode buat mengatasi kelemahan itu. Kita berpikir seolah-olah agama diturunkan untuk malaikat, bukan untuk manusia beserta segenap sisi kemanusiaan yang problematik.

Kita juga kadang-kadang berlebihan menanggapi kewajiban puasa. Dengan arogan kita menuntut warung makan dan restoran tutup pada siang hari. Kita lupa ada hak-hak orang lain yang dilanggar dengan kepongahan itu. Atas nama puasa, kita hancurkan puasa kita. Kita bekuk hak saudara kita untuk mencari nafkah dan hak orang yang berbeda agama untuk makan di restoran pada siang hari. Sementara itu, selama berpuasa hati dan pikiran kita sibuk dengan angan-angan kuliner. Puasa pada siang hari, lalu memuaskan perut pada malam hari. Tanpa keteguhan di perjalanan, kita pun tersesat dari tujuan. Tak ada yang pantas diharapkan dari puasa yang demikian. (Kurnia JR, Sastrawan / kompas).

Marhaban Yaa Ramadhan......Wa syukurillah,..... Walhamdulillah...... Wasalaamm.......

[ mrheal / bbcom ]
View

Related

TOKOH 3428259129440352200

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item