Referendum Yunani Berimbas ke Bursa Asia, IHSG Minus 1,26%

JAKARTA, BLOKBERITA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,26 persen di level 4919 pada perdagangan hari ini, Kamis (6/7). Penurunan indeks mengekor koreksi yang terjadi di bursa Asia menyusul sentimen negatif referendum Yunani.

Hingga pukul 12:30 WIB, indeks Nikkei di Jepang merosot 2,48 persen, indeks Hang Seng di Hong Kong turun  4,21 persen, indeks KOSPI di Korea Selatan minus 2,32 persen, dan Strait Times Singapura melemah 0,85 persen. 

Kepala Riset PT Bahana Securities, Harry Su mengatakan hasil referendum Yunani yang menolak melakukan penghematan anggaran menjadi sentimen negatif pergerakan bursa saham. Kendati demikian, Harry menilai pelemahan IHSG tidak separah bursa lain di Asia.

" Saya rasa performance kita tidak separah dengan negara lain. Aksi jual asing tercatat hanya sekitar Rp 123 miliar pada siang ini. Hingga saat ini belum terlihat adanya panic selling," ujarnya ketika dihubungi CNN Indonesia, Senin (6/7).

Ia mengaku cukup terkejut dengan adanya hasil referendum tersebut. Pasalnya hingga akhir Jumat pekan lalu, posisi pendukung dan penolak bail out dinilai masih seimbang. Hal itu dinilai bakal membuat fluktuasi pasar meningkat.

" Cukup surprise sih, karena sebelumnya masih 50:50 untuk yes dan no bail out. Dalam jangka pendek saya kira akan membuat volatilitas pasar keuangan meningkat," jelasnya.

Harry menjelaskan, masalah pasar modal tanah air saat ini tidak hanya terkait Yunani, tetapi juga terimbas melemahnya pasar saham Tiongkok. Sementara itu, sentimen dalam negeri dinilai Harry belum ada yang mampu menahan dalam waktu dekat

" Memang result ekonomi kuartal II bakal menjadi harapan. Tapi kami masih flat untuk kinerja korporasi, net profit mungkin ada sedikit kontraksi. Pertumbuhan ekonomi kuartal II kami perkirakan sebesar 4,9 persen, naik tipis dari 4,7 pada kuartal I," ungkapnya.

Kepala Riset PT First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, pelemahan IHSG yang tidak sedalam bursa Asia lainnya sebenarnya juga disebabkan oleh adanya bulan puasa. Menurutnya pada bulan puasa, volume dan frekuensi transaksi saham cenderung menurun.

" Bulan puasa menolong kita. Selain itu tampaknya tidak ada expose langsung dari Yunani terhadap kinerja perdagangan kita," jelasnya.

Namun, David tetap mengakui, jika Yunani jadi keluar dari Euro, maka pasar uang adalah yang pertama bakal terkena imbas. Mata uang euro, lanjutnya, bakal melemah dan dollar AS akan makin perkasa.

"Kalau dollar AS menguat dan rupiah melemah, maka posisi IHSG juga bakal rentan dengan pelemahan," jelasnya.

Lebih lanjut, David mengatakan proses Yunani untuk keluar dari Eropa masih panjang, maka itu pelaku pasar sudah mulai menyusun strategi investasi. Ia menyatakan, investor asing juga sudah banyak melakukan aksi jual di bursa tanah air, maka itu peluang aliran dana masuk masih ada.

"Jika Yunani jadi keluar dari zona Eropa, The Fed (bank sentral AS) pasti enggak akan gegabah menaikkan suku bunga. Saya yakin penaikan suku bunga akan mundur pada tahun depan. Karena itu hot money masih mungkin mengalir ke Indonesia," jelasnya.

Terkait kondisi ekonomi dalam negeri, David menilai sebaiknya pemerintah jangan terlalu mengambil pusing masalah referendum Yunani tersebut. Pemerintah seharusnya fokus ke pembelanjaan negara khususnya terkait proyek infrastruktur.

" Kuartal II masih flat, mungkin pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,8 persen. Pemerintah harusnya fokus ke spending APBN," jelasnya. 

[ bmw / cnni ]
View

Related

BURSA 6824647173931215398

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item