Pandemi Korupsi di Negeri Religi



BLOKBERITA -- Prestasi pemerintahan Jokowi-JK dibidang penegakan hukum (Kejaksaan dan Kepolisian) bahkan KPK sendiri sekarang sepertinya sedang mati suri dengan segudang permasalahannya. Beberapa komisionernya dicongkok Polisi karena diduga melakukan pelanggaran hukum dimasa lalunya dan UU KPK kini sedang dibahas untuk di revisi lagi, entah mau diperkuat atau malah dilemahkan akhirnya. Overall, bisa dikatakan masih belum memuaskan bila dibandingkan dengan bidang Pendidikan dan Kesehatan. Masyarakat masih merasakan susah sekali untuk memperoleh akses ke sana karena masih kuat kesan tebang pilihnya dari kedua ujung tombak penegakkan hukum tersebut untuk menciptakan keadilan di negeri ini tanpa terkecuali. Apalagi kalau permasalahannya berkaitan dengan korupsi.  

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Indonesia 20 tahun mendatang bila kinerja pemerintah tetap seperti ini? Ketika itu kita tidak bisa lagi menemukan jenis energi seperti BBM, kemajuan negara-negara Asia pasifik dan China yang luar biasa, Eropa dan Amerika yang semakin jumawa, persediaan pangan yang semakin menipis dan jumlah penduduk yang terus membengkak. 

Apakah kita akan tetap mentolerir negeri ini tetap korup dengan alasan sangat susah memberantas sistem yang korup dikarenakan pengaruh dari budaya, agama, politik, dan lain sebagainya. Lihatlah para pejabat publik, pengusaha maupun kalangan profesional  yang dicongkok KPK, tampak tak ada rasa malu atau rasa bersalah di wajah mereka bahkan ada yang senyum-senyum sambil melambaikan tangannya. Sepertinya di Indonesia ini korupsi sudah menjadi budaya sehingga kalau ada oknum korupsi dan ditangkap aparat menjadi semacam “tradisi” atau budaya yang sudah biasa terjadi dikalangan pejabat sehingga kalau ada pejabat korupsi dan tertangkap KPK dianggap itu sudah biasa bukan hal yang baru lagi, tak usah heran dan tak perlu malu bagi para pelakunya. Seolah-olah sudah menjadi stereotif  bahwa kalau ada pejabat korupsi; “ ahh itu sudah biasa, kalau gak korupsi mana mungkin bisa hidup kaya raya, punya rumah mewah, mobil mewah lebih dari satu unit, shopping ke eropa, nyekolahin anak ke luar negeri. Kalau pun tertangkap juga sudah biasa banyak teman-temannya yang senasib. Malah bisa reuni di penjara, ngumpul bareng main catur, remi atau domino. Ngapain mesti malu ? ".  Begitu kira-kira ‘mind-frame’-nya.  

Dan lihatlah, tampak sekali di wajahnya tak ada kesan bersalah atau malu karena telah melakukan korupsi. Dan ketika seorang koruptor itu tersenyum, tertawa atau bahkan menangis itu dikarenakan untuk mencari simpati publik dan mengasihani dirinya sendiri -- bukan untuk menangisi tindakannya atau rasa nelangsanya. Mereka para koruptor tak mau tahu dan tak pernah mau peduli bahwa betapa banyak kerusakan dinegeri ini yang disebabkan oleh ulah mereka.

Tidak bisa dipungkiri betapa susahnya memberantas korupsi di negeri ini padahal kita hanya punya waktu kurang dari lima tahun untuk bisa menghasilkan pencapaian dalam hal pemberantasan korupsi secara signifikan kalau tidak ingin melewati masa kritis supaya bangsa ini bisa tetap survive. Lambatnya pemberantasan korupsi berdampak kepada bangsa ini tidak akan bisa melewati masa kritis dan kita akan mengalami mati suri sebelum lambat laun akhirnya dinyatakan bangkrut total. Oleh karena itu harus ada revolusi mindset terhadap istilah dan perilaku korupsi.
 
Kenapa demikian ? Indonesia adalah negara yang penduduknya beragama (religious state), maka disinilah agama harus mengambil peran aktif. Dengan sangat sederhana agama mengajarkan bahwa kita sangat dilarang untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Seperti kisah yang sangat popular dari khalifah masa lalu Umar bin Khattab yang menolak adanya fasilitas dari Negara biarpun itu hanya seberkas cahaya dari lampu minyak milik Negara. Kisah seperti ini tampaknya sangat sepele tapi begitu dalam hikmah yang terkandung didalamnya, begitu indah dan begitu mengagumkan -- membuat kita sangat bangga pernah punya imam atau pemimpin seperti itu. Anehnya, ajaran agama atau banyaknya kisah besar seperti itu tidak punya pengaruh sedikitpun terhadap kehidupan kita sebagai bangsa. Kekuasaan telah membutakan segala-galanya. Proses demokrasi dimana seseorang mulai dari bottom-level hingga top-level dipilih melalui mekanisme one man one vote. Proses demokrasi tersebut menyebabkan kekuasaan yang berhasil didapatkan tidak mudah tersentuh oleh gangguan apapun. Kekuasaan yang ia dapatkan dianggap sangat halal karena ia melewatinya melalui proses yang sangat demokratis dilihat dari sudut pandang hukum atau agama. Demokrasi yang mana tanpa disertai oleh pemahaman yang benar dan tanggung jawab moral yang sesungguhnya telah menjerumuskan kepada penyimpangan birokrasi yang massif -- yang rasa-rasanya hampir tidak mungkin bisa di atasi. Disemua kantong-kantong kekuasaan terjadi korupsi, pemerasan, kekerasan, atau pun penggelapan dengan skala yang beragam. 

Dan yang paling ironis lagi adalah Departemen Agama yang berkewajiban menjaga dan menegakkan nilai-nilai agama yang sangat mengharamkan korupsi malah divonis KPK sebagai salah satu lembaga terkorup di Indonesia. Sungguh sangat melukai nurani muslim Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, Depag dikenal sebagai sarang KKN, bahkan ada disuatu daerah satu keluarga besar masuk menjadi pegawai Depag semua karena bapaknya mantan pejabat di Depag tersebut. Celakanya lagi, ada anaknya yang setengah idiot bisa menjadi PNS di Depag pula. Sungguh sangat melukai keadilan sosial Indonesia -- sementara di luar sana banyak anak-anak bangsa yang normal, cerdas, dan berijasah pada menganggur kebingungan cari kerja karena tak punya 'chanel' di lembaga negara. Sebuah negeri yang amburadul penuh absurditas. 

Korupsi jelas-jelas merampas hak orang lain tapi pada prakteknya betapa banyak mereka yang sangat dermawan, selalu memikirkan dan memberikan santunan kepada anak yatim, rajin ibadah, selalu mengkaji kitab suci, tapi selama ia diberi amanah kekuasaan dari Negara ia tidak pernah terlepas dari penyalahgunaan wewenang atau korupsi atau pemerasan terhadap pihak lain. Jadi tidaklah mengherankan kalau kemenag pernah menyandang predikat sebagai kementrian paling korup. Yang mengherankan kenapa di Negara-negara yang keyakinan agamanya begitu kuat, korupsi sangat susah diberantas dan ada semacam tidak punya muka bila terlibat skandal korupsi. Tapi sebaliknya di negara-negara sekuler atau atheis pun mereka relatif bersih ? Apa ada sesuatu yang salah terhadap bangsa ini ? Atau apakah para pendidik dan pemuka agama kita memberikan informasi yang salah tentang moral yang baik atau akhlak yang baik ? Atau malahan karena para ahli agama, pakar pendidikan, dan para elit di negeri ini yang seharusnya jadi panutan justeru memberikan contoh-contoh amoral di hadapan rakyatnya sendiri sehingga rakyat jadi kehilangan kredibilitas terhadap mereka ? Jangan beri ruang kepada teori yang bisa memberikan keraguan kepada peran agama dalam hal pemberantasan korupsi. Kita buktikan bahwa kisah tentang khalifah Umar bin Khattab mampu berpengaruh besar terhadap masa depan bangsa ini. Atau bangsa ini terpaksa harus bangkrut total di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara ?   

Pertanyaan lebih lanjut adalah Kapan Indonesia bisa bebas dari korupsi jika kondisinya demikian terus ? Apakah Jokowi-JK mampu mengatasinya? Atau justeru akan semakin memperparah kondisi nasional kita? Apakah ada 'Umar bin khattab-nya' Indonesia sekarang ini? Apakah masih relevan gaya kepemimpinan Umar bin Khattab yang hidup pada jaman Arab Jahiliyah untuk diterapkan di Indonesia sekarang ini? Atau gaya kepemipinan/jurus kepemimpinan apa yang tepat untuk diterapkan di Indonesia ini? Yang notabene masyarakatnya banyak yang masih 'abu-abu' artinya setengah baik dan setengah jahat atau banyakan dikit anasir jahatnya tapi tetap alim dan santun -- dengan kata lain licik, cerdik, gesit, dan sangat licin tapi rajin beribadah dan sok dermawan -- maksudnya jenius sekali dalam melakukan penyelewengan dan kejahatan bahkan setan, dhemit, dan iblis pun sudah nggak mau lagi menggoda atau pun memprovokasi orang Indonesia untuk berbuat jahat dan maksiat karena menurutnya orang Indonesia itu sudah jauh lebih canggih kejahatan dan kemaksiatannya dibandingkan mereka (setan, dhemit, dan iblis) sehingga dhemit cs suka malu sendiri bila menghasut orang Indonesia. Rempong sekali bukan ? 

Puyeng dehh mikirin orang Indonesia itu.... Kagak percaye ?..... Bukti'in ajee sendiri sonnoo..... dijamin dehh.... Bluuddrrekk sewulan..... Wheengngng..... kliyeng…. kliyeng…kliyyeng…. brruuegkkk….. kejang-kejang…. kumatt ayannee… !! 

Ini bukan pesimisme lhoo... tapi ekspresi anak negeri yang sudah sedemikian kenyang menyaksikan kefrustasian sosial yang sudah sedemikian marak, meroyak dan merata di berbagai penjuru negeri. Haruskah Insiden '98 terjadi lagi ?  Adil Merata Penderitaan Rakyat....!

[ mrheal / bbcom ]


View

Related

TOKOH 5985478270482021452

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item