Membongkar Sunnah, Wajib dan Konyolnya Euforia Idul Fitri


BLOKBERITA -- Deretan keinginan,  tujuan  dari deraan  “Nafsu” yang membuat seorang manusia itu jadi manusia yang serakah, bisa menempati sisi-sisi  berbagai kiprah manusia itu sendiri, “Tak Perduli manusia  itu  sedang melakukan ibadah (berserah diri kepada Tuhan)”  hal itu diucapkan oleh seorang Alim (Orang yang dianggap lebih mengerti) akan Ilmu Agama yang dia sampaikan pada sebuah ceramahnya ketika penulis ikut mendengarkan tausyiahnya  pada sebuah Acara yang  diselenggarakan pada sebuah moment acara yang digelar disebuah tempat.

Begitupun nafsu itu tetap berusaha  berkuasa  merasuk  masuk  ke hatinya  seorang  Muslim yang  sedang  melakukan ibadat Puasa pada pase akhir dari deretan tanggal  puasa itu sendiri (dari hitungan  wajib puasa untuk satu bulan penuh) pada tanggal dibulan Puasa Rhomadhon yang seharusnya  dipakai  guna  sarana berserah dirinya manusia (Muslim) itu sendiri   kepada Kuasa Tuhan yang mengharuskan “Menerapkan” artikulasi iman yang dimilikinya  tersebut kepada hal-yang bersifat  khusus ; Agar berusaha menjauhi “Gerak” nafsu manusiawi yang disematkan kepada sifat aslinya manusia  tersebut agar nafsu  bersifat  hewani-nya  seorang manusia itu  (Nafsu  Personal)   bisa “Ter-jinakan” dengan baik  ketika deretan nafsu sang *Hayawanunnatiq  ( *ungkapan sifat nafsu manusia yang diibaratkan  kepada  sifat dari nafsunya hewan buas)  tersebut telah merasuk kepada tulang sum-sumnya masing-masing  personal manusia  itu sendiri.

Kiranya renungan itu bisa lebih menyadarkan diri kita (ini) agar lebih patuh  (mematuhi)  terhadap apa arti Taqwa (yang asli & sesungguhnya) yang  harus dilakukan  seorang manusia itu sendiri ketika sedang melakukan puasa Rhomadhon  yang  tata-cara  Ibadatnya tersebut  sangat unik dan merupakan sebuah kegiatan Ibadat yang tidak akan pernah diketahui (oleh manusia yang menjalankan ibadatnya ) dari  sebuah pertanyaan “ berapa nilai (nominal-nya) seseorang yang telah melakukan (menamatkan) kegiatan ibadatnya tersebut?”. Dari  sebuah upayanya  menjauhi keinginan makan (tak makan) tak boleh minum, tak boleh mencaci orang lain,tak boleh menampilkan amarah kepada manusia yang lainnya, tak boleh bersedih terlalu dalam sampai meneteskan airmata (misalnya), tak boleh membenci manusia yang lainnya,tak boleh menghardik , tak boleh bersebadan (berhubungan sex) dengan pasanganya yang sah sekalipun,tak boleh mencaci maki manusia dengan yang lainnya dan puluhan “karakter  nama nafsu”  lagi  dari nama-nama  deretan nafsu  dan ketidak bolehan yang  harus dilakukan oleh seorang manusia yang melakukan ibadat puasa di bulan Rhomadhon itu sesungguhnya. 

Rahasia:

Luhurnya nilai puasa Rhomadon  itu  merupakan “Rahasia”  Tuhan sang pencipta alam, ”Hanya Akulah (TuhanMu-@by Tafsir Al-jalalain)  yang akan memberikan ganjaran (hitungan nominalnya) dan  berkah yang besar untuk pelaku puasa Rhomadahon yang baik itu sesungguhnya , apabila manusia itu menjalankan  ibadat  puasa !” (dan segala keharusan yang telah disematkan kepada karakter puasa rhomadahan itu sesungguhnya)”@Al-ayat.

Pase-pase ibadat  puasa  Rhomadhan  itu diakhiri dengan melakukan “Ritual Ibadat” yang  bersifat Sunnah (pekerjaan ibadat yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW), yang akrab disebutkan sebagai nama lebaran  Idul Fitri  (Kembali Kepada Keberkahan) bila itu dilakukan  di-Indonesia atau/arti kata dari  Idul -yang  arti katanya antara lain sebagai sebuah  Hari yang biasa disebutkan sebagai Id-Barokah (hari keberkahan) yang biasa diawali dengan pentakziman  diri  seorang muslim dengan melakukan ritual membacakan kalimat Takbir (Memuji yang maha Kuasa dengan ucapan Allohu Akbar atau Alloh yang maha besar-pen)  pada sekitar tanggal Akhir ketika mendekati jatuh (Tempo) tanggalnya Bulan Romadhan pada tahun itu ke-jatuh tanggalnya 1 Syawal  pada tahun yang sama pada hitungan yang telah disepakati  bersama  (Berjamaah)  dengan  sebuah keyakina penuh hasil  upaya observasi  ilmiah yang dilakukan oleh para Ahli falaqiyyah (ahli ilmu perbintangan) ketika melakukan obsevasi yang sesungguhnya dengan cara yang meyakinkan dan dengan cara-cara terbaik menurut katagory Ilmu Falaqiyyah itu sendiri.

Catatan Kecil:

Bahwa jatuh tempo melakukan ritual ibadat puasa Rhomadhon tersebut adalah ketika para Ilmuwan (Ahli Falaqiyyah) yang ditugaskan khusus dan dipercaya  kaum Muslimin diseluruh Dunia  (terpercaya) telah menyatakan bahwa hari dan tanggal akhir tersebut telah “Berakhir” dan dinyatakan dengan cara publikasi secara khusus bersifat umum agar semua manusia yang tengah melakukan ibadat Puasa pada bulan Rhomadhon  tahun itu  tersebut segera mengkahiri Ritual puasanya.

Dan pernyataan jatuh tempo tanggal 1 Syawal itu sebagai bagian Hak Peto-nya  sebuah  ketentuan hukum baku yang ter-dalilkan pada dalil-dalilnya para Ulama Ahli Fiqih Islam  yang telah disepakati bersama sebagai bagian “Kewajibanya” seorang manusia muslim yang telah berpuasa mengkahiri  segala kegiatan puasanya . Konsekwensinya adalah;  ketika tanggal Akhir bulan puasa pada 1 Syawal  (tahun tersebut) telah dinyatakan sebagai akhir dari  “Ritual”  ibadat puasa Rhomadhon  maka segenap Ummat Muslim yang tengah melakukan ibadat puasa telah *Diharamkan ( *di-Tidak Boleh dengan konsekwensi terancam akan diberikan sangsi keras dengan katagory sangsi yang amat pedas) oleh Tuhan sang pencipta alam.

Sunnah & Wajibnya:

Lalu pase itu masuk  ketahapan Merayakan  Hari Raya Idul Fitri dengan berbagai Ritual yang telah ada catatan ibadat Sunnah dan Wajibnya. Diantara ritual ibadat Sunnah pada Idul Fitri itu adalah;  Memperbaharui segala yang berada pada badan manusia yang telah melakukan ibadat puasa sebulan penuh  tersebut dengan cara Mandi Sunnah dan mengganti pakaian dengan pakaian yang bersih (jauh dari baju yang dikenakannya itu dengan pakaian terkatagory najis,kotor dan sifat karakter buruk lainnya yang tersematkan pada criteria-kriteria ideal sebuah pakaian yang dikenakan ketika itu ) dan disanapun tersematkan ketentuannya “Tidak Boleh berlebih-lebihan” yang akan berakibat  buruk bagi keberlangsungan Ritual bersifat Sunnah itu sesungguhnya. Jadi bukan memakai baju yang mahal, baru  dan  tarik juga kesimpulannya  dengan cara “Mengenakan” pakaian yang  sederhana  dan  tanpa   maksud  Ber-Ria (Menyombongkan)  diri yang dikenakan pada hari Raya idul fitri tersebut.  

Salah sebuah Ritual Wajib pada Pase Akhir Tanggal 1 Syawal tersebut adalah ; menyerahkan Kewajiban Ber-zakat Fitrah dengan cara menyerahkan sebagian kecil  dari harta yang dimiliki oleh  seorang Muslim tersebut  guna sebuah kepentingan yang baik  untuk diberikan kepada orang-orang (manusia) papa tak berdaya seperti manusia-manusia

-Fakir dan miskin,

-Anak-anak yatim-Piatu ,

-Diserahkan  untuk manusia-manusia yang punya Hutang tanggungan harta seseorang manusia yang tidak berdaya membayar hutangnya (ghorim)   ,

-Untuk janda-janda miskin,

-Untuk manusia-manusia yang baru memeluk agama Islam (mualaf) ,

-Untuk manusia-manusia yang tengah melakukan perjalanan hidup yang baik yang berguna bagi kepentingan agama dan negaranya demi kewajiban atas nama  TuhanNya (sabilillah),

- Dan kewajiban berzakat itu dikenakan kepada seluruh Muslim (Kaum kaya dan kaum Miskinnya) dan disesuaikan dengan kemampuhan yang dimiliki oleh seluruh Personal manusia Muslim itu sendiri dengan waktu yang  dibatasi  oleh sebuah ketentuan ; “Jangan  sampai (Diberikan) kebatas Akhir ketika fajar pagi tiba pada jatuh tanggal 1 Syawal” ketika Bulan Rhomadhan tahun tersebu.

*Catatan; bila ada sebentuk pertanyaan  ;” Kenapa jangan sampai memberikan zakat fitrah (Zakat Wajib-pen) pada jatuh tempo tanggal 1 Syawal? Jawabannya sederhana (mungkin)  Karena hukum itu telah terplot dengan baik dan kita serahkan jawabannya itu terhadap Kebenaran Hukum Tuhan itu sendiri (Wallohu A,lam Bisshowaab)  Kita ucapkan Hanya Tuhanlah yang maha Tahu…!.

Kesimpulan:

Yang  paling  Wajib  (keharusan yang terplot atas hukum fiqih islam-pen)   dan merupakan (akan)  punya ganjaran yang berlipat ganda dari Sang Maha pencipta  itu terletak pada “Membayar” Zakat Fitrah pada menjelang Lebaran Idul fitri , dan yang paling  “Sunnah” adalah mempersiapkan diri dengan baik  agar tubuh kita bersih dengan mengenakan pakaian yang bersifat baik ,ideal,pantas dipakai menutup aurat dengan cara yang baik , dan yang paling  “Mubah “ (Konyol)  adalah berlebih-lebihan mempersiapkan pakaian,makanan dan segala keperluan  yang akan dikenakan oleh kita ketika akan melakukan ibadat sunnat (shalat id-misalnya) ,

Lalu yang paling tidak akan punya ganjaran (bayaran yang baik dari Tuhan) adalah mempersiapkan makanan,minuman ,cara berpakaian,mempersiapkan kostum lebaran dengan cara berlebihan , dan ketahuilah disinilah letak kwalitas ibadat Sunnat  & Wajibnya Idul Fitri itu sebenarnya , karenanya kita mesti mengingat-ingat sebuah fakta yang telah disematkan pada sebuah ketentuan yang terungkap dari sebuah tafsir Al-Kitab ;  “Berlebih-lebihan itu merupakan tabi,at syeitan”  lalu ketika hal tersebut dikembangkan maka kengerian akan terjadi dari upaya “Bodoh” manusia itu sendiri.

Alhasil ketika kita tidak tahu apa inti dari perayaan Idul Fitri tersebut sebenarnya  maka yang akan terjadi sebuah bencana moral yang mudah-mudahan tidak  “Mengena”  pada diri kita dan keluarga kita tercinta dan tidak  akan  jadi bencana moral bagi segenap mahluk yang hidup diseluruh jagat raya ini ,,,Amiin yaa robbal alamiin …..

[ bbcom / Asep Rizal / kompasiana ]            
View

Related

OPINI 2122451043965695475

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item