Krisis Ekonomi China dan Kepanikan di Bursa Saham

BLOKBERITA -- Kejatuhan saham di bursa China diprediksi bakal menyulut krisis ekonomi baru. Harapan Indonesia mendapat kucuran utang dari China bisa hanya tinggal mimpi belaka.

Pada awal perdagangan hari Rabu ( 8/7/15), investor di bursa Shanghai China, dilanda panik jual. Akibatnya, bursa Shanghai rontok sampai 8%. Agar tidak semakin turun, lebih dari 1.300 perusahaan meminta otoritas bursa menghentikan perdagangan, Hasilnya tidak banyak membantu, bursa Shanghai ditutup turun 5,9%.

Penurunan tajam ini bukan pertama kali, karena dalam jangka waktu satu bulan, bursa saham Shanghai telah mengalami penurunan lebih dari 30%. Bank Sentral Cina (PBOC), sebenarnya sudah beberapa hari ini berusaha menenangkan pasar. Mereka berjanji akan turun ke pasar untuk mencegah penurunan lebih dalam. Tapi, usaha tersebut tidak berhasil, investor tetap saja dilanda panik jual.

Kepanikan di bursa Shanghai, menular ke negara-negara Asia. Seperti, bursa Hongkong turun 5,8%, bursa Jepang turun 3,1%, sedang IHSG turun 0,7%. Banyak dugaan penyebab turunnya bursa Shanghai. Salah satunya karena bursa Shanghai dari awal tahun naik terlalu tinggi. Jadi wajar bila ada koreksi. Pandangan seperti ini, beranggapan bahwa tidak ada korelasi antara sektor finansial dengan sektor rill.

Sebenarnya, kenaikan saham di bursa Shanghai pada awal tahun, karena investor berharap Pemerintah China dan PBOC menggelontorkan stimulus untuk membuat gelembung ekonomi bisa kempis secara bertahap. Tapi, setelah data ekonomi China terakhir dilansir, tampaknya gelembung ekonomi bukan kempis secara bertahap, melainkan pecah.

Data ekonomi tersebut, seperti pertumbuhan ekonomi sulit untuk mencapai target Pemerintah China sebesar 7% (bagi China pertumbuhan 7% saja sudah lambat). Kredit macet sektor properti kembali meningkat, utang-utang perusahaan China juga semakin membesar, bahkan sudah ada beberapa perusahaan gagal bayar utang. Sementara rasio utang dengan PDB sudah membengkak dan cadangan devisa relatif kecil dibandingkan dengan utang valas.

Memang, tidak semua penurunan tajam bursa akan berlanjut menjadi krisis ekonomi. Tapi kalau dianggap remeh bisa berakibat fatal. Contohnya, depresi besar tahun 1928 dan krisis global tahun 2008, diawali dari penurunan parah indeks Dow Jones. Dan sudah menjadi hukum alam, investor di pasar modal berusaha memprediksi kejadian lebih dulu dibandingkan sektor riil.

Bila prediksi para investor tentang meletusnya gelembung ekonomi China menjadi kenyataan, dampaknya akan sangat besar terhadap dunia, khususnya negara-negara Asia. Karena ekonomi China kedua terbesar di dunia. Harga-harga komoditas akan tunggang-langgang. China juga akan berusaha keras untuk memperbesar ekspornya. Akibatnya, negara-negara dengan industri lemah, seperti Indonesia akan kebanjiran barang-barang China.

Dampak dari setiap krisis global akan membuat likuiditas mengering. Sayangnya, kemampuan negara-negara besar untuk memompa likuiditas sudah kecil. Sebab, dampak krisis global tahun 2008 telah membuat rasio utang dibanding PDB mereka sudah tinggi, termasuk China. Dalam kondisi ekonomi seperti ini, sudah pasti China berusaha menyelamatkan dirinya dulu, bukan menolong negara lain.

Celakanya, pemerintahan Jokowi sangat berharap mendapatkan utang dari China untuk membangun infrastruktur besar-besaran. Tampaknya, harapan tersebut hanya akan menjadi isapan jempol belaka.

[ bbcom / Inrev ]
onesianReview.com -- Kejatuhan saham di bursa Cina diprediksi bakal menyulut krisis ekonomi baru. Harapan Indonesia mendapat kucuran utang dari Cina hanya tinggal mimpi. 
Pada awal perdagangan hari Rabu ( 8/7/15), investor di bursa Shanghai Cina, dilanda panik jual. Akibatnya, bursa Shanghai rontok sampai 8%. Agar tidak semakin turun, lebih dari 1.300 perusahaan meminta otoritas bursa menghentikan perdagangan, Hasilnya tidak banyak membantu, bursa Shanghai ditutup turun 5,9%.
Penurunan tajam ini bukan pertama kali, karena dalam jangka waktu satu bulan, bursa saham Shanghai telah mengalami penurunan lebih dari 30%. Bank Sentral Cina (PBOC), sebenarnya sudah beberapa hari ini berusaha menenangkan pasar. Mereka berjanji akan turun ke pasar untuk mencegah penurunan lebih dalam. Tapi, usaha tersebut tidak berhasil, investor tetap saja dilanda panik jual.
Kepanikan di bursa Shanghai, menular ke negara-negara Asia. Seperti, bursa Hongkong turun 5,8%, bursa Jepang turun 3,1%, sedang IHSG turun 0,7%. Banyak dugaan penyebab turunnya bursa Shanghai. Salah satunya karena bursa Shanghai dari awal tahun naik terlalu tinggi. Jadi wajar bila ada koreksi. Pandangan seperti ini, beranggapan bahwa tidak ada korelasi antara sektor finansial dengan sektor rill.
Sebenarnya, kenaikan saham di bursa Shanghai pada awal tahun, karena investor berharap Pemerintah Cina dan PBOC menggelontorkan stimulus untuk membuat gelembung ekonomi bisa kempis secara bertahap. Tapi, setelah data ekonomi Cina terakhir dilansir, tampaknya gelembung ekonomi bukan kempis secara bertahap, melainkan pecah.
Data ekonomi tersebut, seperti pertumbuhan ekonomi sulit untuk mencapai target Pemerintah Cina sebesar 7% (bagi Cina pertumbuhan 7% saja sudah lambat). Kredit macet sektor properti kembali meningkat, utang-utang perusahaan Cina juga semakin membesar, bahkan sudah ada beberapa perusahaan gagal bayar utang. Sementara rasio utang dengan PDB sudah membengkak dan cadangan devisa relatif kecil dibandingkan dengan utang valas.
Memang, tidak semua penurunan tajam bursa akan berlanjut menjadi krisis ekonomi. Tapi kalau dianggap remeh bisa berakibat fatal. Contohnya, depresi besar tahun 1928 dan krisis global tahun 2008, diawali dari penurunan parah indeks Dow Jones. Dan sudah menjadi hukum alam, investor di pasar modal berusaha memprediksi kejadian lebih dulu dibandingkan sektor riil.
Bila prediksi para investor tentang meletusnya gelembung ekonomi Cina menjadi kenyataan, dampaknya akan sangat besar terhadap dunia, khususnya negara-negara Asia. Karena ekonomi Cina kedua terbesar di dunia. Harga-harga komoditas akan tunggang-langgang. Cina juga akan berusaha keras untuk memperbesar ekspornya. Akibatnya, negara-negara dengan industri lemah, seperti Indonesia akan kebanjiran barang-barang Cina.
Dampak dari setiap krisis global akan membuat likuiditas mengering. Sayangnya, kemampuan negara-negara besar untuk memompa likuiditas sudah kecil. Sebab, dampak krisis global tahun 2008 telah membuat rasio utang dibanding PDB mereka sudah tinggi, termasuk Cina. Dalam kondisi ekonomi seperti ini, sudah pasti Cina berusaha menyelamatkan dirinya dulu, bukan menolong negara lain.
Celakanya, pemerintahan Jokowi sangat berharap mendapatkan utang dari Cina untuk membangun infrastruktur besar-besaran. Tampaknya, harapan tersebut hanya akan menjadi isapan jempol belaka.
- See more at: http://indonesianreview.com/daniel-rudi/awal-dari-krisis-ekonomi-cina#sthash.uanoTual.dpuf
View

Related

BURSA 2127691387744753238

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item