Kebangkrutan Ekonomi Yunani dan Imbasnya ke Indonesia

BLOKBERITA -- Kebuntuan dalam pertemuan Brussels bulan lalu, sebenarnya sudah dirasa pahit oleh pemimpin baru Yunani, Alexis Tsipras.

Ia mengatakan, pertemuan Brussels sangat menentukan berjalannya kembali roda ekonomi Yunani. Tapi hasilnya, Yunani bangkrut.

Meski harga saham eropa berjatuhan karena akibat krisis Yunani, namun diperkirakan tidak akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Ini karena Eropa bukanlah pasar ekspor utama Indonesia. Pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia saat ini adalah Amerika, China dan Jepang. Ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa, menurut data BPS, hanya sebesar 7%. Maka jangan heran bila dampak Yunani tak mempengaruhi fluktuasi IHSG.

Tetapi para pemain pasar uang melihat kemungkinan terjadinya gejolak cukup tinggi di pasar obligasi. Hal ini karena gagal bayar Yunani bisa memperlemah euro terhadap dolar AS. Dengan demikian akan banyak investor beralih ke obligasi berdenominasi dolar.

Kekhawatiran terbesar Indonesia terhadap krisis Yunani, selain membuat dolar makin perkasa, adalah dampaknya terhadap Jerman. Maklum, Jerman adalah rekan dagang Indonesia terpenting di Eropa. Dan Jerman adalah pemberi utang terbesar kepada Yunani.

Meski demikian, menurut Direktur Eksekutif Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Budi Santoso, ancaman krisis Yunani tidak perlu dikhawatirkan. Alasannya, penutupan bak dan pembatasan penarikan dana dari ATM hanya sampai 5 Juli. Selain itu, katanya, porsi perekonomian Yunani di Eropa sangat kecil. PDB Yunani  kurang dari 2% persen dari total Eropa.

Bank Indonesia (BI) pun juga berpandangan sama. BI justru lebih khawatir akan dampak kenaikan suku bunga acuan The Fed ketimbang krisis Yunani. Namun, bukan berarti kasus Yunani diabaikan oleh BI, karena penguatan dolar AS dan pelemahan ekonomi China juga bisa membuat pemerintah Indonesia akan makin pusing.

Di mata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, melemahnya euro bisa memperlemah perekonomian Cina. Ini karena Uni Eropa adalah rekan dagang utama Cina, sehingga impornya dari negara Panda bisa merosot tajam. Sedangkan Cina sendiri adalah tujuan utama komoditas ekspor Indonesia.

Sayang, bagaimana drama ekonomi Yunani akan berakhir masih jauh di awang-awang. Sejauh ini pemerintah Yunani masih nekad untuk tidak memenuhi permintaan para kreditornya agar melakukan rasionalisasi PNS dan anggaran belanja, serta menaikkan nilai dan basis pajak. Ali-alih membayar utang, pemerintah negara para filsuf ini bahkan mengancam akan menyita semua aset Jerman bila tak membayar rampasan perang dunia pertama kedua senilai 341 miliar euro.

Utang total Yunani saat ini adalah 360 miliar euro. Sedangkan utang yang dari IMF saja, yang jatuh tempo tahun ini adalah US$ 1,54 miliar. Dan mudah-mudahan semua masalah utang ini menemui jalan terang setelah referendum yang diselenggarakan pemerintah Yunani pada 5 juli ini berlangsung. Bila ternyata rakyat Yunani menolak pembayaran utang, persoalan tentu makin berat, dan dampaknya ke Indonesia bakal makin serius pula.

[ bmw / Ir ]
IndonesianReview.com -- Kebuntuan dalam pertemuan Brussels bulan lalu, sebenarnya sudah dirasa pahit oleh pemimpin baru Yunani, Alexis Tsipras.
Ia mengatakan, pertemuan Brussels sangat menentukan berjalannya kembali roda ekonomi Yunani. Tapi hasilnya, Yunani bangkrut.
Meski harga saham eropa berjatuhan karena akibat krisis Yunani, namun diperkirakan tidak akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Ini karena Eropa bukanlah pasar ekspor utama Indonesia. Pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia saat ini adalah Amerika, China dan Jepang. Ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa, menurut data BPS, hanya sebesar 7%. Maka jangan heran bila dampak Yunani tak mempengaruhi fluktuasi IHSG.
Tetapi para pemain pasar uang melihat kemungkinan terjadinya gejolak cukup tinggi di pasar obligasi. Hal ini karena gagal bayar Yunani bisa memperlemah euro terhadap dolar AS. Dengan demikian akan banyak investor beralih ke obligasi berdenominasi dolar.
Kekhawatiran terbesar Indonesia terhadap krisis Yunani, selain membuat dolar makin perkasa, adalah dampaknya terhadap Jerman. Maklum, Jerman adalah rekan dagang Indonesia terpenting di Eropa. Dan Jerman adalah pemberi utang terbesar kepada Yunani.
Meski demikian, menurut Direktur Eksekutif Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Budi Santoso, ancaman krisis Yunani tidak perlu dikhawatirkan. Alasannya, penutupan bak dan pembatasan penarikan dana dari ATM hanya sampai 5 Juli. Selain itu, katanya, porsi perekonomian Yunani di Eropa sangat kecil. PDB Yunani  kurang dari 2% persen dari total Eropa.
Bank Indonesia (BI) pun juga berpandangan sama. BI justru lebih khawatir akan dampak kenaikan suku bunga acuan The Fed ketimbang krisis Yunani. Namun, bukan berarti kasus Yunani diabaikan oleh BI, karena penguatan dolar AS dan pelemahan ekonomi China juga bisa membuat pemerintah Indonesia akan makin pusing.
Di mata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, melemahnya euro bisa memperlemah perekonomian Cina. Ini karena Uni Eropa adalah rekan dagang utama Cina, sehingga impornya dari negara Panda bisa merosot tajam. Sedangkan Cina sendiri adalah tujuan utama komoditas ekspor Indonesia.
Sayang, bagaimana drama ekonomi Yunani akan berakhir masih jauh di awang-awang. Sejauh ini pemerintah Yunani masih nekad untuk tidak memenuhi permintaan para kreditornya agar melakukan rasionalisasi PNS dan anggaran belanja, serta menaikkan nilai dan basis pajak. Ali-alih membayar utang, pemerintah negara para filsuf ini bahkan mengancam akan menyita semua aset Jerman bila tak membayar rampasan perang dunia pertama kedua senilai 341 miliar euro.
Utang total Yunani saat ini adalah 360 miliar euro. Sedangkan utang yang dari IMF saja, yang jatuh tempo tahun ini adalah US$ 1,54 miliar. Dan mudah-mudahan semua masalah utang ini menemui jalan terang setelah referendum yang diselenggarakan pemerintah Yunani pada 5 juli ini berlangsung. Bila ternyata rakyat Yunani menolak pembayaran utang, persoalan tentu makin berat, dan dampaknya ke Indonesia bakal makin serius pula.
- See more at: http://indonesianreview.com/ds-muftie/yunani-bangkrut-dampak-pada-indonesia-bagaimana#sthash.Y8o3f1dM.dpuf
IndonesianReview.com -- Kebuntuan dalam pertemuan Brussels bulan lalu, sebenarnya sudah dirasa pahit oleh pemimpin baru Yunani, Alexis Tsipras.
Ia mengatakan, pertemuan Brussels sangat menentukan berjalannya kembali roda ekonomi Yunani. Tapi hasilnya, Yunani bangkrut.
Meski harga saham eropa berjatuhan karena akibat krisis Yunani, namun diperkirakan tidak akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Ini karena Eropa bukanlah pasar ekspor utama Indonesia. Pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia saat ini adalah Amerika, China dan Jepang. Ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa, menurut data BPS, hanya sebesar 7%. Maka jangan heran bila dampak Yunani tak mempengaruhi fluktuasi IHSG.
Tetapi para pemain pasar uang melihat kemungkinan terjadinya gejolak cukup tinggi di pasar obligasi. Hal ini karena gagal bayar Yunani bisa memperlemah euro terhadap dolar AS. Dengan demikian akan banyak investor beralih ke obligasi berdenominasi dolar.
Kekhawatiran terbesar Indonesia terhadap krisis Yunani, selain membuat dolar makin perkasa, adalah dampaknya terhadap Jerman. Maklum, Jerman adalah rekan dagang Indonesia terpenting di Eropa. Dan Jerman adalah pemberi utang terbesar kepada Yunani.
Meski demikian, menurut Direktur Eksekutif Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Budi Santoso, ancaman krisis Yunani tidak perlu dikhawatirkan. Alasannya, penutupan bak dan pembatasan penarikan dana dari ATM hanya sampai 5 Juli. Selain itu, katanya, porsi perekonomian Yunani di Eropa sangat kecil. PDB Yunani  kurang dari 2% persen dari total Eropa.
Bank Indonesia (BI) pun juga berpandangan sama. BI justru lebih khawatir akan dampak kenaikan suku bunga acuan The Fed ketimbang krisis Yunani. Namun, bukan berarti kasus Yunani diabaikan oleh BI, karena penguatan dolar AS dan pelemahan ekonomi China juga bisa membuat pemerintah Indonesia akan makin pusing.
Di mata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, melemahnya euro bisa memperlemah perekonomian Cina. Ini karena Uni Eropa adalah rekan dagang utama Cina, sehingga impornya dari negara Panda bisa merosot tajam. Sedangkan Cina sendiri adalah tujuan utama komoditas ekspor Indonesia.
Sayang, bagaimana drama ekonomi Yunani akan berakhir masih jauh di awang-awang. Sejauh ini pemerintah Yunani masih nekad untuk tidak memenuhi permintaan para kreditornya agar melakukan rasionalisasi PNS dan anggaran belanja, serta menaikkan nilai dan basis pajak. Ali-alih membayar utang, pemerintah negara para filsuf ini bahkan mengancam akan menyita semua aset Jerman bila tak membayar rampasan perang dunia pertama kedua senilai 341 miliar euro.
Utang total Yunani saat ini adalah 360 miliar euro. Sedangkan utang yang dari IMF saja, yang jatuh tempo tahun ini adalah US$ 1,54 miliar. Dan mudah-mudahan semua masalah utang ini menemui jalan terang setelah referendum yang diselenggarakan pemerintah Yunani pada 5 juli ini berlangsung. Bila ternyata rakyat Yunani menolak pembayaran utang, persoalan tentu makin berat, dan dampaknya ke Indonesia bakal makin serius pula.
- See more at: http://indonesianreview.com/ds-muftie/yunani-bangkrut-dampak-pada-indonesia-bagaimana#sthash.Y8o3f1dM.dpuf
View

Related

EKBIS 7539064855298862045

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item