Jokowi Effect, PHK Massal dan ISIS

BLOKBERITA -- Daya beli menurun, PHK merebak, ekonomi kian lesu. Pemerintah masih gandrung membahas pembangunan jangka panjang.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini adalah membangun rumah sakit untuk mengatasi wabah penyakit yang sedang berjangkit. Para korban wabah ini disuruh menunggu sampai pembangunan rumah sakit tersebut rampung. Bila ada korban yang tak sanggup bertahan, ya salah sendiri.

Wabah yang sedang berjangkit dan membuat jutaan orang waswas adalah PHK. Kabar terbaru tentang wabah ini berasal dari Tangerang, Banten. Pada 25 Juni lalu, PT Ching Luh melaporkan kepada Pemda setempat bahwa manajemen telah memutuskan untuk melakukan PHK terhadap 2.441 buruhnya.

Meski tak menyebut kaitannya dengan kemampuan perusahaan membayar Tunjangan Hari Raya, pembuat sepatu merek Adidas ini menyatakan bahwa PHK massal terpaksa dilakukan karena permintaan merosot tajam. Meski berbagai upaya telah dilakukan, namun permintaan sepatu yang populer di kalangan anak muda ini sejak enam bulan lalu rontok secara konsisten. Yakni dari 1.300 menjadi 500 pasang sepatu per hari.

Entah berapa banyak lagi PHK massal bakal terjadi. Yang pasti, pihak kemanan tentu harus makin waspada karena para korban PHK, apalagi menjelang lebaran, bisa kalap. Maklum, ketenangan hidup mereka sesungguhnya sudah berbulan-bulan terganggu oleh berbagai kabar tentang PHK.

Dalam berbagai pertemuan, baik antar sesama pengusaha maupun dengan pemerintah pusat dan daerah, terungkap bahwa banyak perusahaan telah merencanakan PHK.  Mereka sudah tak sanggup lagi menunggu langkah-langkah kongkrit yang seharusnya  diambil oleh pemerintah untuk mengatasi kelesuan ekonomi. Apalagi sampai sekarang pemerintah belum juga menawarkan insentif memadai untuk mencegah PHK. Tak masalah apakah insentif itu bersifat fiskal atau tidak, bagi mereka yang penting bisa menekan biaya.

Tak kalah memusingkan adalah kenyataan bahwa Pungli tetap merajalela. Para pemungut uang haram ini tak peduli bahwa apa yang mereka perbuat bisa membuat makin banyak orang kehilangan pekerjaan bahkan masa depan. Sudah bukan rahasia pula bahwa Pungli sudah lama menjadi benalu di semua sektor bisnis, sedangkan upaya untuk memberantasnya hanya tampak dahsyat di panggung-panggung seminar-seminar dan workshop.

PLN pun ternyata kena getahnya. Pertumbuhan penjualan listrik oleh PLN pada pada kuartal pertama tahun ini hanya 2,7 %. Pada periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan tersebut tercatat 5%. Penurunan produksi yang memaksa banyak pabrik mengurangi jam kerja adalah biang keladi penurunan tersebut. Salah satu pelanggan PLN terbesar yang mengurangi konsumsi listrik adalah industri otomotif. Industri ini telah menghentikan giliran kerja pada Sabtu dan Minggu.

Bagi para pebisnis, baik di sektor riil maupun keuangan, ketidakmampuan pemerintah menghadapi tantangan ekonomi yang kian brutal sesungguhnya mulai tampak ketika Jokowi mengumumkan susunan kabinet. Bayangkan, posisi Menko Perekonomian, diserahkan kepada seorang doktor bidang hukum. Menko Bidang Kemaritiman diserahkan kepada doktor Geologi Penginderaan Jarak Jauh. Sedangkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional kepada seorang pemegang gelar S2 bidang ilmu sosial. Maka, pada 26 Oktober 2014, ketika Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya, rupiah dan IHSG langsung jeblok dan berlanjut sampai sekarang.

Sejak itu mimpi indah tentang kehebatan ‘ Jokowi effect’  sirna. Sebagai gantinya, masyarakat dicemaskan merosotnya pertumbuhan ekonomi dan melesatnya angka pengangguran serta harga-harga barang kebutuhan. Menurut catatan BPS, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini melambat 0,43% menjadi  4,71%. Sedangkan angka pengangguran pada Februari lalu meningkat 0,11% menjadi 5,81% dari angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja hingga Februari lalu adalah 128,3 juta orang.

Di masa mendatang, seiring dengan makin banyaknya perusahaan mengalami kesulitan akibat ekonomi lesu berkepanjangan, hampir bisa dipastikan bahwa peningkatan jumlah pengangguran bakal kian sulit dibendung. Pemerintah juga makin sulit membendung gairah korban PHK untuk melampiaskan kefrustrasiannya dengan melakukan kekerasan. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Menurut Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorism (BNPT) Saud Usman Nasution, tahun ini peningkatan jumlah simpatisan ISIS di Indonesia cukup mengkhawatirkan.

Bila PHK massal terus berlanjut, tak ada yang aneh bila mereka yang berangkat ke medan perang Timur Tengah kian melesat. Runyamnya, suatu saat nanti, ketika mereka pulang ke tanah air, aparat keamanan bakal kerepotan menghadapi teror bom disana-sini. Semoga ini tak terjadi. Semoga pemerintah mengerti !      

[ plo / inrev ]



View

Related

OPINI 6231997839947454496

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item