Rupiah dan Saham Anjlok, Pasar Modal Panik, Obral Besar-Besaran

BLOKBERITA -- Kejatuhan rupiah dan harga saham yang tanpa jeda mulai bikin merinding. Sebab, bukan saja efeknya bisa ke mana-mana, situasi sekarang memicu aneka spekulasi yang berbahaya. Itu pula yang mulai tampak, Selasa (9/6). Pelaku pasar keuangan mulai panik dan obral besar-besaran di bursa. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 4.899,88, turun 2,26% dari level sehari sebelumnya.

Kini, IHSG berada di level terendah dalam sebelas bulan terakhir, sejak 3 Juli 2014. Nilai tukar rupiah juga kian kepayahan. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kemarin, menunjukkan rupiah kembali turun 0,54% menjadi 13.362 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sejak awal tahun ini, rupiah telah jatuh 7,11%. Gejolak nilai tukar rupiah telah menggerus cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2015 sebesar US$110,8 miliar, lebih rendah dari posisi April 2015 sebesar US$ 110,9 miliar. Menipisnya cadangan devisa ini buah dari upaya stabilisasi kurs rupiah.

Sayang, rupiah tetap terkapar lemah. Secara umum, kini risiko investasi portofolio di Indonesia meningkat. Hal itu tampak pada kenaikan credit default swap (CDS) untuk surat utang bertenor 10 tahun yang naik dari level 239 menjadi 256,5. Tak mengherankan jika harga Surat Utang Negara (SUN) seturut merosot.

Konsekuensinya, imbal hasil alias yield SUN, Senin (8/6), naik menjadi 8,76%, level tertinggi sejak Februari 2014. Problem dari luar dan lokal Episentrum gejolak pasar keuangan kita saat ini masih dari faktor global.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menandaskan lagi, rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan krisis Yunani menjadi pemicu terbesar guncangan pasar keuangan global, tak terkecuali Indonesia. Niat Fed tersebut memicu penguatan dollar AS dan melemahkan mata uang lainnya.

Kendati begitu, Latif Adam, Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengingatkan, situasi sekarang memang mengkhawatirkan, utamanya rupiah yang sudah jatuh 7,11% sejak awal tahun. Menurut Latif, jika pelemahan rupiah mencapai 10% dalam setahun, Indonesia bisa masuk dalam fase krisis keuangan.

Melihat pelemahan rupiah saat ini, kata Latif, Indonesia bisa dikatakan di ambang krisis. Itu sebabnya, Latif berharap pemerintah dan BI lebih awas lagi. Maklum, selain tekanan faktor luar negeri, fundamental ekonomi dalam negeri juga tak menggembirakan. Neraca dagang dan neraca transaksi berjalan belum menunjukkan perbaikan.

Selain itu, kepercayaan pasar terhadap pemerintah mulai pudar akibat pemerintah tampak belum kompak dan seirama. Sayang, kekompakan itu masih belum terlihat, utamanya dalam menghadapi gejolak ekonomi sekarang.

Bahkan Sofjan Wanandi, Staf khusus Wakil Presiden, misalnya, menyatakan, pelemahan rupiah adalah andil dari kebijakan BI. Salah satunya, kebijakan mewajibkan perusahaan menggunakan rupiah dalam setiap transaksi. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 17/3/PBI/2015 yang berlaku 1 April 2015.

" Kebijakan BI menimbulkan pertanyaan yang menambah ketidakpastian," tandasnya.

Namun, Direktur Komunikasi BI Peter Jacob, menegaskan, sejauh ini BI telah mengambil kebijakan untuk meredam gejolak rupiah. Contohnya, sejak Senin lalu hingga kemarin, BI intervensi pasar dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN).

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengakui bahwa sulit bagi pemerintah saat ini mengubah kondisi ekonomi lokal dalam jangka pendek. Yang bisa dilakukan saat ini memperbaiki kinerja pemerintah dengan mendorong penyerapan anggaran lebih baik. Untuk jangka pendek, agaknya pemerintah dan BI perlu meredakan suhu pasar. Sebab, situasi panik acap dipakai untuk ajang spekulasi yang bisa bikin runyam.

[ bmw / kontan ]
View

Related

HEADLINES 7486772847031133362

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item