Luncurkan Buku Kisah Spiritualnya, Peggy Melati Sukma Mantap "Berhijrah" jadi Artis Juru Dakwah

BLOKBERITA -- Peggy Melati Sukma telah meluncurkan buku ketiganya berjudul " Ku Jemput Engkau Disepertiga Malam ". Isi buku tersebut merupakan curahan hatinya kepada sang pencipta, Allah SWT.

" Saya baru selesai acara di DPR MPR, ini membicarakan buku kujemput Engkau di Sepertiga Malam. Buku ini tentang curahan hati saya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya menulis buku ini secara runut, 32 tahun perjalanan hidup saya," kata Peggy saat ditemui di komplek gedung DPR MPR RI Jakarta, Jumat (13/6).

Bukan curahan hatinya saja kepada Allah SWT, tapi pemain sinetron Gerhana itu juga menulis perjalanan karirnya selama berkarya di dunia hiburan tanah air.  Bahkan, ia juga menulis tentang kisahnya ketika kehidupan masih sulit dan sederhana.

" Waktu itu, saya masih menjadi orang miskin. Tetangga saya orang Arab, China. Jadi, apa yang terjadi dalam hidup saya itu ada dibuku ini yang tebalnya 400 halaman," kata Peggy.

Makanya, buku ketiga Peggy ini. Ia ingin berbagi pengalamannya semoga bagi yang membaca bisa termotivasi serta memberikan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia ini.
 " Saya alami jatuh bangun yang nggak mudah, saya lewati naik turunnya kehidupan, bahkan pernah kehilangan segalanya," tutur Peggy.

Dakwah Kontekstual
Peggy Melati Sukma telah meluncurkan buku ketiganya berjudul Ku Jemput Engkau Disepertiga Malam. Isi buku tersebut merupakan curahan hatinya kepada sang pencipta, Allah SWT.
"Saya baru selesai acara di DPR MPR, ini membicarakan buku kujemput Engkau di Sepertiga Malam. Buku ini tentang curahan hati saya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya menulis buku ini secara runut, 32 tahun perjalanan hidup saya," kata Peggy saat ditemui di komplek gedung DPR MPR RI Jakarta, Jumat (13/6).
Bukan curahan hatinya saja kepada Allah SWT, tapi pemain sinetron Gerhana itu juga menulis perjalanan karirnya selama berkarya di dunia hiburan tanah air.  Bahkan, ia juga menulis tentang kisahnya ketika kehidupan masih sulit dan sederhana.
"Waktu itu, saya masih menjadi orang miskin. Tetangga saya orang Arab, China. Jadi, apa yang terjadi dalam hidup saya itu ada dibuku ini yang tebalnya 400 halaman," kata Peggy.
Makanya, buku ketiga Peggy ini. Ia ingin berbagi pengalamannya semoga bagi yang membaca bisa termotivasi serta memberikan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia ini. "Saya alami jatuh bangun yang nggak mudah, saya lewati naik turunnya kehidupan, bahkan pernah kehilangan segalanya," tutup Peggy. Julietemagazine.com (Ade)
- See more at: http://www.julietemagz.com/detail-277/Peggy-Melati-Sukma-Bikin-Buku-Kisah-Perjalanan-Karirnya.html#sthash.skgNxM6T.dpuf
Peggy Melati Sukma telah meluncurkan buku ketiganya berjudul Ku Jemput Engkau Disepertiga Malam. Isi buku tersebut merupakan curahan hatinya kepada sang pencipta, Allah SWT.
"Saya baru selesai acara di DPR MPR, ini membicarakan buku kujemput Engkau di Sepertiga Malam. Buku ini tentang curahan hati saya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya menulis buku ini secara runut, 32 tahun perjalanan hidup saya," kata Peggy saat ditemui di komplek gedung DPR MPR RI Jakarta, Jumat (13/6).
Bukan curahan hatinya saja kepada Allah SWT, tapi pemain sinetron Gerhana itu juga menulis perjalanan karirnya selama berkarya di dunia hiburan tanah air.  Bahkan, ia juga menulis tentang kisahnya ketika kehidupan masih sulit dan sederhana.
"Waktu itu, saya masih menjadi orang miskin. Tetangga saya orang Arab, China. Jadi, apa yang terjadi dalam hidup saya itu ada dibuku ini yang tebalnya 400 halaman," kata Peggy.
Makanya, buku ketiga Peggy ini. Ia ingin berbagi pengalamannya semoga bagi yang membaca bisa termotivasi serta memberikan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia ini. "Saya alami jatuh bangun yang nggak mudah, saya lewati naik turunnya kehidupan, bahkan pernah kehilangan segalanya," tutup Peggy. Julietemagazine.com (Ade)
- See more at: http://www.julietemagz.com/detail-277/Peggy-Melati-Sukma-Bikin-Buku-Kisah-Perjalanan-Karirnya.html#sthash.skgNxM6T.dpuf

Metropolitan adalah potret masyakat modern, dengan berbagai problem, mulai dari masalah transportasi, lingkungan hidup, multikuluralisme, persaingan yang ketat, dan lain-lain. Akibatnya, masyarakatnya menjadi lebih rasional, instan, egois-individualistik, hedonistik, dan materalistik. Karena itu dakwah di kalangan merekan harus lebih kontekstual, harus bisa diterima, dan tidak boleh menghakimi. Demikian dikatakan oleh Peggy Melati Sukma, artis sinetron yang sudah hijrah menjadi da’iyah di hadapan peserta Halaqah Da’awiyah MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta (27/1).

Lebih lanjut mantan penyanyi dan foto model ini menambahkan, bahwa karakteristik masyarakat metropolis itu sangat komplek yang tidak cukup dijejali dengan sederet dali-dalil yang ujung-ujungnya menyalahkan mad’u (orang yang didakwahi).

“ Saat saya menjadi artis, saya mencari tokoh agama yang bisa menerima kami apa adanya. Kami tahu bahwa dunia keartisan yang penuh keglamoran bertentangan dengan agama. Namun, pendekatan dakwah yang menghakimi akhirnya kami jadi ogah belajar agama”, tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, dosen University of Wollongong, Australia, juga mengaminkan pendapat Peggy. Menurutnya, kompleksitas masyarakat metropolis perlu disikapi secara arif. Gaya dai yang sering menyalahkan mad’unya harus dihindari.

“ Saya punya pengalaman di Australia, saat saya mengajak seorang perempuan untuk mengaji. Dia bilang malu karena tidak memiliki jilbab. Saya minta datang dengan baju yang paling sopan. Akhirnya dia datang dengan baju yang dia miliki. Namun, saat ustad yang saya panggil dari Indonesia mengisi, perempuan ini ditunjuk-tunjuk oleh ustad karena tidak mengenakan hijab. Akibatnya dia kapok tidak ikut pengajian lagi. Lha inikan cara dakwah yang salah, tidak memahami realitasnya”, tuturnya.

Karena itu, Nadir menyarakan, agar lembaga-lembaga dakwah membuat rumusan tentang strategi dakwah yang tepat. Buatkan peta dan kurikulum dakwah yang kontekstual agar tujuan dakwah dapat maksimal.

“ Untuk kasus dakwah di lingkungan minoritas harus menggunakan pendekatan budaya. Perlu juga difikirkan pentingnya fikih minoritas bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, seperti negeri-negeri Eropa, Australia, Amerika, maupun lainnya”, ujarnya.

Peggy Dakwah ke Madura

Jarang muncul di layar kaca, Peggy Melati Sukma menghabiskan waktu dengan berdakwah. Seperti yang tampak baru-baru ini, Peggy berdakwah hingga ke Madura, Jawa Timur.

" Saya dua hari di Madura, hari ini (Minggu) di Bangkalan, besok (Senin) ke Sumenep," ujar aktris yang kini berhijab itu saat ditemui di Madura, Minggu (17/5/2015).

Perubahan tampak pada diri Peggy. Jika sebelumnya, aktris sinetron Gerhana itu berdandan mencolok dengan rambut terurai, kini dia tampil bersahaja dengan hijab panjang.

"Kehadiran saya di Madura salah satunya untuk mengajak orang berhijrah. Berhijrah dalam artian memperbaiki diri, menjadi lebih baik, taat pada ajaran agama, dan tentunya agar istikamah dalam kebaikan yang dijalaninya," jelas Peggy

[ bmw / BI ]
Metropolitan adalah potret masyakat modern, dengan berbagai problem, mulai dari masalah transportasi, lingkungan hidup, multikuluralisme, persaingan yang ketat, dab lain-lain. Akibatnya, masyarakatnya menjadi lebih rasional, instan, egois-individualistik, hedonistik, dan materalistik. Karena itu dakwah di kalangan merekan harus lebih kontekstual, harus bisa diterima, dan tidak boleh menghakimi. Demikian dikatakan oleh Peggy Melati Sukma, artis sinetron yang sudah hijrah menjadi da’iyah di hadapan peserta Halaqah Da’awiyah MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta (27/1).

Lebih lanjut mantan penyanyi dan foto model ini menambahkan, bahwa karakteristik masyarakat metropolis itu sangat komplek yang tidak cukup dijejali dengan sederet dali-dalil yang ujung-ujungnya menyalahkan mad’u (orang yang didakwahi).

“Saat saya menjadi artis, saya mencari tokoh agama yang bisa menerima kami apa adanya. Kami tahu bahwa dunia keartisan yang penuh keglamoran bertentangan dengan agama. Namun, pendekatan dakwah yang menghakimi akhirnya kami jadi ogah belajar agama”, tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, dosen University of Wollongong, Australia, juga mengaminkan pendapat Peggy. Menurutnya, kompleksitas masyarakat metropolis perlu disikapi secara arif. Gaya dai yang sering menyalahkan mad’unya harus dihindari.

“Saya punya pengalaman di Australia, saat saya mengajak seorang perempuan untuk mengaji. Dia bilang malu karena tidak memiliki jilbab. Saya minta datang dengan baju yang paling sopan. Akhirnya dia datang dengan baju yang dia miliki. Namun, saat ustad yang saya panggil dari Indonesia mengisi, perempuan ini ditunjuk-tunjuk oleh ustad karena tidak mengenakan hijab. Akibatnya dia kapok tidak ikut pengajian lagi. Lha inikan cara dakwah yang salah, tidak memahami realitasnya”, tuturnya.

Karena itu, Nadir menyarakan, agar lembaga-lembaga dakwah membuat rumusan tentang strategi dakwah yang tepat. Buatkan peta dan kurikulum dakwah yang kontekstual agar tujuan dakwah dapat maksimal.

“Untuk kasus dakwah di lingkungan minoritas harus menggunakan pendekatan budaya. Perlu juga difikirkan pentingnya fikih minoritas bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, seperti negeri-negeri Eropa, Australia, Amerika, maupun lainnya”, ujarnya. (thob - See more at: http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/prof-nadirsyah-gaya-dakwah-yang-sering-hakimi-obyek-dakwah-madu-harus-dihindari#sthash.hMssXKCP.dpuf
Metropolitan adalah potret masyakat modern, dengan berbagai problem, mulai dari masalah transportasi, lingkungan hidup, multikuluralisme, persaingan yang ketat, dab lain-lain. Akibatnya, masyarakatnya menjadi lebih rasional, instan, egois-individualistik, hedonistik, dan materalistik. Karena itu dakwah di kalangan merekan harus lebih kontekstual, harus bisa diterima, dan tidak boleh menghakimi. Demikian dikatakan oleh Peggy Melati Sukma, artis sinetron yang sudah hijrah menjadi da’iyah di hadapan peserta Halaqah Da’awiyah MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta (27/1).

Lebih lanjut mantan penyanyi dan foto model ini menambahkan, bahwa karakteristik masyarakat metropolis itu sangat komplek yang tidak cukup dijejali dengan sederet dali-dalil yang ujung-ujungnya menyalahkan mad’u (orang yang didakwahi).

“Saat saya menjadi artis, saya mencari tokoh agama yang bisa menerima kami apa adanya. Kami tahu bahwa dunia keartisan yang penuh keglamoran bertentangan dengan agama. Namun, pendekatan dakwah yang menghakimi akhirnya kami jadi ogah belajar agama”, tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, dosen University of Wollongong, Australia, juga mengaminkan pendapat Peggy. Menurutnya, kompleksitas masyarakat metropolis perlu disikapi secara arif. Gaya dai yang sering menyalahkan mad’unya harus dihindari.

“Saya punya pengalaman di Australia, saat saya mengajak seorang perempuan untuk mengaji. Dia bilang malu karena tidak memiliki jilbab. Saya minta datang dengan baju yang paling sopan. Akhirnya dia datang dengan baju yang dia miliki. Namun, saat ustad yang saya panggil dari Indonesia mengisi, perempuan ini ditunjuk-tunjuk oleh ustad karena tidak mengenakan hijab. Akibatnya dia kapok tidak ikut pengajian lagi. Lha inikan cara dakwah yang salah, tidak memahami realitasnya”, tuturnya.

Karena itu, Nadir menyarakan, agar lembaga-lembaga dakwah membuat rumusan tentang strategi dakwah yang tepat. Buatkan peta dan kurikulum dakwah yang kontekstual agar tujuan dakwah dapat maksimal.

“Untuk kasus dakwah di lingkungan minoritas harus menggunakan pendekatan budaya. Perlu juga difikirkan pentingnya fikih minoritas bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, seperti negeri-negeri Eropa, Australia, Amerika, maupun lainnya”, ujarnya. (thob - See more at: http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/prof-nadirsyah-gaya-dakwah-yang-sering-hakimi-obyek-dakwah-madu-harus-dihindari#sthash.hMssXKCP.dpuf
View

Related

INFOTAINMENT 3468944231378014027

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item