Islam Moderat, Kekuatan Indonesia Membangun Dunia

BLOKBERITA -- Indonesia sebagai Negara dengan penduduk Muslim terbesar menjadi harapan dunia (terutama umat Muslim) untuk bisa berkontribusi dalam menata kehidupan global yang saat ini semakin kacau, kata “dunia yang damai” menjadi sebuah mimpi yang semakin hari semakin susah diwujudkan.

Perang berkobar dimana-dimana, termasuk di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti di Suriah, Afganistan, Irak, dan yang terbaru adalah konflik di Yaman. Lalu apakah yang bisa dilakukan Indonesia ?

Sebagai salah satu negara besar, sudah menjadi kewajiban bagi bangsa Indonesia untuk bisa berkontribusi dalam menghadapi segala problematika yang dihadapi dunia, terutama dunia Islam.

Usai perang dingin, Samuel Huntington memprediksi akan terjadi benturan peradaban (clash of civilization) antara Timur dan Barat. Apa yang disampaikan Huntington kini terbukti, Timur yang merujuk pada dunia Islam saat ini menjadi sorotan dunia, banyak negara berpenduduk Muslim berada dalam kecamuk konflik atau bahkan perang.

Selain dari konflik yang terjadi di Negara berpenduduk Islam, adanya kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam (terorisme) dan fenomena islamfobia semakin menguatkan tesis Huntington.

Menyikapi fenomena ini, segala yang terjadi dan memiliki kaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan dunia islam, Indonesia seharusnya berada dalam barisan depan dalam menuntaskan permaslahan yang tersebut.

Harus disadari, terkait kecenderungan konflik yang terjadi dalam dunia Islam posisi Indonesia sangat menarik, Indonesia relatif lebih stabil, padahal heterogenitas di Indonesia sangatlah tinggi termasuk dalam hal keyakinan beragama. Menurut hemat penulis, pencapaian ini tidak lepas dari kondisi mayoritas Muslim di Indonesia berpemikiran rahmatan lil alamin.

Islam moderat inilah yang harusnya menjadi kekayaan dan kekuatan Indonesia untuk disalurkan kepada umat muslim didunia, terutama dalam upaya mewujudkan perdamaian global. Islam moderat sebagaimana pemikiran salah satu guru bangsa dan juga presiden keempat, KH. Abdurahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur mengajarkan Islam dipahami secara kontekstual tidak terbatas tekstual saja.

Pemahaman ini sangat penting bagi upaya mewujudkan sikap saling memahami dan saling mehormati antar umat berkeyakinan serta menciptakan perdamaian ditengah-tengah mereka. Dalam banyak kasus konflik keagaman seringkali diawali dari penafsiran ajaran agama yang terlalu kaku yang hanya merujukpada teks-teks keagamaan saja, sehingga dengan mudahnya akan menyalahkan kelompok lain yang memiliki  pandangan berbeda.

Yang patut menjadi perhatian adalah konflik yang terkait dengan dunia Islam sesungguhnya sangat membutuhkan peran dan kontribusi Muslim moderat Indonesia, keberadaan pihak  moderat dapat  menjadi “penghubung” antara dua belah pihak yang berbeda pandangan dan berkecenderungan untuk dilanjutkan dalam bentuk konflik, baik antar sesama Muslim maupun antara Muslim dan non-Muslim (barat).

Peran penghubung tidak terbatas dilakukan langsung oleh Negara (state actor), dalam hubungan internasional kontemporer aktor selain Negara (nonstate actor) seperti individu, kelompok kepentingan, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan serta yang lainnya dapat berperan sebagai aktor penting dalam ranah global.

Selain berperan menjadi penghubung, dalam menghadapi kekacauan global yang terkait dengan dunia Islam, dengan bermodalkan kondisi dalam negeri yang relatif lebih stabil kondisi sosial-masyarakatnya,

Indonesia dapat berperan memulihkan citra islam dimata dunia terutama melalui diplomasi publik. Diplomasi publik merupakan diplomasi yang dilakukan oleh suatu negara terhadap masyarakat internasional guna mencapai kepentingannya.

Sebagai upaya preventif-persuasif, atau dapat berperan penting sebagai penengah/mediator untuk menemukan solusi dari setiap konflik yang melibatkan kaum muslim melalui jalur diplomasi keagamaan (faith-Based Diplomacy) sebagai bentuk upaya solutif.

Terkait diplomasi keagamaan, Douglas Johnston (seorang pakar diplomasi keagamaan) mendefinisikan diplomasi keagamaan sebagai penggabungan dari kepentingan keagamaan dalam praktik politik internasional yang berarti menjadikan agama sebagai bagian dari solusi kebuntuan konflik identitas dalam lingkup geopolitik masa kini.

Merujuk pada definisi yang disampaikan Johnston, setiap konflik antar Muslim sejatinya diakibatkan kebuntuan konflik identitas yang umumnya disebabkan rendahnya rasa toleransi antar sesama Muslim. Mereka (kelompok muslim yang bertikai) belum bisa memaknai perbedaan sebagai suatu rahmat yang diberikan Tuhan (ikhtilafu ummati rahmah).
Kita tidak perlu pesimis dengan kemungkinan Indonesia memainkan peran ini, diplomasi keagamaan sudah dilakukan oleh muslim Indonesia, salah satunya yang sudah dilakukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam menyikapi konflik di Afganistan.

PBNU berperan aktif dalam menengahi konflik yang terjadi di Afganistan, konflik antar etnik berkepanjangan yang mayoritas penduduknya beragama islam. Sikap moderat PBNU bisa diterima pihak yang bertikai dan mampu memberi dampak yang cukup berarti, salah satunya adalah ketika berhasil membebaskan 27 Warga Negara Korea selatan yang disandera Taliban.

Selain itu mampu mempertemukan pihak-pihak yang bertikai guna mencari solusi konflik, bahkan bisa meyakinkan Taliban untuk mau duduk bersama di meja perundingan yang sebelumnya menolak segala bentuk perundingan.

Serta tumbuhnya harapan baru bagi masa depan Muslim Afganistan dengan berdirinya Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) yang terdiri dari ulama-ulama berbagai kelompok yang ada di Afganistan yang mulai menyadari pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Diplomasi keagamaan yang telah dilakukan PBNU (dan juga kelompok muslim lainnya) merupakan bukti bahwa Muslim Indonesia bisa diterima dan bahkan dipercaya umat Muslim dibelahan dunia lain.

Ini merupakan sebuah progres yang harus didukung agar islam moderat yang ada di Indonesia memungkinkan menjadi solusi bagi permasalahan global saat ini yang terkait dengan Islam, baik Islam sebagai sebuah ajaran maupun sebagai sebuah identitas.

Dalam beberapa kasus Faith based diplomacy yang dilakukan Muslim Indonesia telah membuahkan hasil yang menggembirakan, yang diakui masyarakat dunia termasuk dari pihak non-Muslim sekalipun. Peluang ini (Faith based diplomacy) harus dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya mewujudkan dunia Islam yang damai dan mampu berkembang bersama demi kesejahteraan muslim dan kejayaan islam.

Diplomasi keagamaan yang dilakukan Muslim Indonesia dapat menjadi sumbangan besar dalam membangun peradaban Islam. Tidaklah mungkin umat Islam membangun peradaban bila sesama Muslim terus bertikai dan meminggirkan rasa persatuan dan persaudaraan.

Bangsa Indonesia harus kembali berperan aktif dalam upaya membangun dunia, bila dulu diawal berdirinya Negara Indonesia semangat yang ditularkan adalah semangat anti kolonilisme dan imperealisme.

Maka saat ini semangat yang harus ditularkan (terutama kepada saudara Muslim yang sedang bertikai) adalah semangat kebersamaan dan persatuan dan hidup berdampingan secara damai. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, bukan ?

[ Rol / Mukhamad Suzianto / Anggota Forum Negarawan Muda ]


View

Related

TOKOH 8284926577586309899

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item