Barack Obama: Rasisme Masih Menjadi "Kutukan" di Amerika Serikat

SAN FRANSISCO, BLOKBERITA -- Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan bahwa penembakan di gereja masyarakat kulit hitam Carolina Selatan adalah contoh "kutukan" rasisme, yang belum hilang dari negaranya.

Obama pada Jumat malam, di depan pertemuan wali kota Amerika Serikat, juga membantah tuduhan bahwa dia mempolitikkan tragedi di Gereja Charleston untuk mewacanakan undang-undang anti-senjata.

" Dalih pelaku penembakan mengingatkan kita akan masih ada kutukan rasisme, yang harus diperangi bersama," kata Obama.

Di sisi lain, Obama menyebut sejumlah penembakan lain di Amerika Serikat, seperti, di sekolah kota Newtown, Connecticut, dan di bioskop kota Aurora, Colorado.

Menurut Obama, sejumlah penembakan itu menunjukkan pentingnya reformasi undang-undang pembatasan kepemilikan senjata. Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat merupakan negara yang menjamin hak warga untuk memiliki senjata.

" Kita harus terus memperdebatkan persoalan ini tanpa harus mencela semua pemilik senjata yang patuh terhadap hukum. Namun demikian, kita juga harus membuang jauh setiap perdebatan yang ingin mencabut semua hak kepemilikan senjata," kata dia.

Obama sendiri sudah mendesakkan agenda pembatasan penjualan senjata sejak insiden penembakan sekolah di Newtown pada 2012 lalu. Namun dia kalah oleh kekuatan lobi politik senjata dan gagal meyakinkan Kongres.

Dengan menyebut 11.000 warga Amerika Serikat yang tewas akibat kekerasan bersenjata sejak 2013, Obama berargumen bahwa reformasi yang pernah dia usulkan bisa mencegah sebagian dari kekerasan tersebut.

" Kita tidak menyaksikan pembunuhan dalam skala sebesar ini, dengan frekuensi sesering ini, di semua negara maju di atas bumi ini," kata dia.

" Setiap negara mempunyai warga dengan mental yang tidak stabil, suka kekerasan, ataupun penyebar kebencian. Yang membedakan negara satu dengan lainnya adalah, bahwa tidak setiap negara mengizinkan peredaran senjata dengan mudah," kata dia.

Obama sendiri tidak yakin bahwa Kongres akan mengagendakan undang-undang pembatasan senjata dalam waktu dekan ini. Namun demikian, dia percaya opini publik akan berubah dan memaksa para wakil rakyat untuk bertindak.

" Saya menolak untuk menilai bahwa (penembakan) adalah kenormalan baru, atau hanya bersedih atas insiden ini. Saya juga menolak tuduhan bahwa setiap tindakan untuk menghentikan ini merupakan politisasi persoalan," kata Obama dikutip Reuters.   

'Hawar' Rasisme

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan penembakan massal di satu gereja warga kulit hitam di South Carolina menunjukkan bahwa "hawar" (penyakit menular) rasisme masih ada di Amerika, dan mencerca para pengkritik yang menuduhnya mempolitisasi tragedi untuk bicara lebih keras soal aturan kepemilikan senapan.

Saat berbicara dalam konferensi para wali kota Amerika Serikat, Jumat (19/6), Obama mengatakan pembunuhan sembilan orang di gereja Afrika-Amerika di Charleston menunjukkan kebutuhan akan kewaspadaan terhadap rasisme.

" Motivasi jelas penembak mengingatkan kita bahwa rasisme masih menjadi penyakit menular yang harus kita perangi bersama," kata Obama.

Dia menyebut penembakan massal sebelumnya di sebuah sekolah di Newtown, Connecticut dan bioskop di Aurora, Colorado, untuk memperdebatkan perlunya reformasi aturan kepemilikan senapan, sebuah subjek yang sangat politis di negara yang konstitusinya menjamin hak untuk memiliki senapan.

" Kita harus bisa membicarakan masalah ini dengan masyarakat tanpa menjadikan semua pemilik senapan yang taat hukum sebagai penjahat, tapi juga tidak mengesankan bahwa setiap debat mengenai ini melibatkan alur liar untuk mengambil senapan semua orang," katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.

Obama mendesak pengendalian senapan lebih ketat setelah kejadian penembakan massal di sebuah sekolah di Newtown tahun 2012, tapi digagalkan oleh kekuatan politis lobi senjata dan gagal menyakinkan Kongres.

Mencatat lebih dari 11.000 orang Amerika tewas dalam tindak kekerasan menggunakan senapan pada 2013, Obama mengakui proposalnya yang gagal "tidak akan mencegah setiap aksi kekerasan" tapi setidaknya akan menghentikan beberapa di antaranya.

" Anda tidak melihat pembunuhan dalam skala ini, dengan frekuensi semacam ini, di bangsa-bangsa maju lain di Bumi," katanya.

" Setiap negara punya orang-orang bengis, penuh kebencian atau secara mental tidak stabil. Yang membedakannya adalah bahwa tidak setiap negara tenggelam dalam kemudahan mengakses senapan," katanya.

Obama mengatakan Kongres tampaknya tidak akan membahas aturan keamanan senapan dalam waktu dekat tapi dia yakin opini publik pada akhirnya akan berubah dan memaksa parlemen bertindak.

" Saya menolak menganggap ini sebagai kondisi normal baru, atau berpura-pura bahwa berduka saja sudah cukup, dan bahwa apapun yang dilakukan untuk menghentikannya bagaimanapun adalah mempolitisasi masalah," kata Obama.

Para pendukung aturan kepemilikan senapan yang lebih ketat mengajukan legislasi kurang dari dua pekan sebelum penembakan Charleston untuk mendesak pengetatan aturan lisensi pistol namun peluangnya untuk maju sangat kecil di Kongres yang dikendalikan Partai Republik.

Perwakilan Demokrat Chris Van Hollen mengatakan "Kami berharap tragedi-tragedi semacam ini pada akhirnya menembus kesadaran parlemen dan mendorong aksi."

Tapi Brian Malte, eksekutif kelompok pendukung pengendalian senapan Brady Campaign to Prevent Gun Violence, tidak banyak berharap.

" Semua yang telah dilakukan Kongres adalah menutup dengar pendapat dan pemungutan suara mengenai masalah ini," katanya.


[ bmw / reuters / antara ]
View

Related

GLOBAL 7613677502172466651

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item