Harga Minyak Dunia Turun, Penerimaan Negara Menguap Rp 150 Triliun

 
NEW YORK, BLOKBERITA -- Harga minyak dunia berakhir lebih rendah pada pedagangan Senin (4/5/2015) waktu setempat (Selasa pagi WIB), karena pasar khawatir terhadap pasokan minyak mentah yang berlimpah.
 
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun 22 sen menjadi ditutup pada 58,93 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.
 
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juni, patokan global, menetap hampir tidak berubah pada 66,45 dollar AS per barel, turun satu sen dari tingkat penutupan Jumat lalu. Di Inggris, bank dan bisnis lainnya ditutup pada Senin untuk hari libur umum.
 
" Tidak terlalu banyak berita," kata Bart Melek dari TD Securities.
 
Menurut dia, penurunan harga emas hitam ini karena investor khawatir mengenai pasokan yang berlebih.
 
" OPEC memproduksi di 31.300.000 barrel (per hari), produksi AS tidak turun sangat cepat dan, dengan demikian, persediaan minggu ini sangat jauh bisa membuktikan terjadi penurunan besar yang bisa menjadi penggerak untuk WTI," tambahnya.
 
Penerimaan Negara Berkurang
 
Rendahnya harga minyak dunia menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan APBN ideal. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menjelaskan, kendati pemerintah Joko Widodo telah melakukan reformasi subsidi energi, namun harga minyak yang turun berpengaruh signifikan terhadap ruang fiskal.

“ Betul subsidi sudah ada reformasi, sudah tidak membebani anggaran. Tetapi harga minyak masih rendah, selain akan berpengaruh terhadap bagi hasil ke daerah, itu akan terasa juga di pusat. Tahun 2015 ini saja kita kehilangan Rp 150 triliun dari penurunan harga minyak dan juga produksi,” kata Bambang, Jakarta, Rabu (29/4/2015).

Secara umum Bambang menaksir, harga minyak belum beranjak naik pada tahun 2016 mendatang. Dengan rendahnya harga minyak tersebut, Bambang memastikan penerimaan negara menjadi terbatas, demikian pula dengan ruang fiskal.

Bambang mengatakan, selain dari penurunan harga minyak, tantangan menuju APBN ideal adalah adanya mandatory spending, di antaranya adalah anggaran pendidikan (20 persen), anggaran kesehatan (5 persen), transfer ke daerah (26,5 persen dari penerimaan netto), serta pembayaran bunga utang.

“ Beberapa subsidi yang masih ada, seperti subsidi listrik, pupuk, raskin, LPG 3 kg, itu harus dilakukan. Terus yang baru kita luncurkan dana desa 10 persen dari dana perimbangan. Itu adalah mandatory spending yang sudah harus ada dalam APBN,” jelas Bambang.
 
 [ bmw / kmps / tempo / cnni ]
View

Related

EKBIS 5086931061679069832

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item