BBCA Incar Akuisisi Bank Bermodalkan 5 Triliun, Laju Sahamnya Coba Tutup Gap Pelemahan


BLOKBERITA -- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah mencermati rapor kinerja sederet bank yang bakal dicaplok dalam rencana akuisisi akhir semester I nanti. BBCA mengatakan masih membutuhkan waktu untuk mempelajari laporan keuangan masing-masing bank yang bakal diakuisisi. BCA sengaja mencari bank yang tetap mampu mencatatkan rapor kinclong di tengah kondisi industri perbankan yang melambat.

BCA juga menunggu harga jual bank menjadi lebih murah. Asumsinya, di tengah perlambatan ekonomi, bank kecil membutuhkan pertolongan modal segara. Yang pasti, BCA membidik bank dengan kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan BUKU II atau bank yang memiliki modal berkisar antara Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. BCA masih terus memantau situasi dan kondisi perekonomian Indonesia. Alasan-alasan itu tentu saja agar BCA bisa mendapat perusahaan target yang sesuai dengan rencana bisnis dan pas dengan budget yang disiapkan.

Sebelumnya, BCA menyatakan telah menganggarkan dana Rp 1,5 triliun untuk mengembangkan anak usaha, termasuk akuisisi bank. Namun, menurut besaran dana yang dianggarkan untuk akuisisi bank belum ditentukan.

Hingga kuartal I 2015, BBCA berhasil membukukan kenaikan laba bersih menjadi Rp4,1 triliun, atau naik 10,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,7 triliun. Adapun kinerja tersebut ditopang oleh pendapatan operasional atau pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya yang naik 13,2% menjadi Rp11 triliun selama kuartal pertama 2015 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp9,7 triliun.

Sementara dari sisi fungsi intermediasi, BBCA membukukan outstanding portofolio kredit sebesar Rp335,6 triliun pada akhir Maret 2015, tumbuh 5,8% secara year on year. Secara keseluruhan portofolio kredit terdiversifikasi dengan korporasi mencapai 32,5% dari portofolio, sementara kredit komersial & UKM dan konsumer masing-masing 40,1% dan 27,4% dari total portofolio kredit.

Kredit korporasi naik 2,9% yoy menjadi Rp109,2 triliun dan kredit komersial & UKM meningkat 8,3% year on year menjadi Rp134,4 triliun. Kenaikan tersebut mendukung pertumbuhan keseluruhan portofolio kredit. Kredit konsumer naik 5,6% year on year menjadi Rp92 triliun, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh 3,6% year on year menjadi Rp54,8 triliun, serta Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) naik 6,9% yoy menjadi Rp28,7 triliun. Selain itu, outstanding kartu kredit tercatat mencapai Rp8,5 triliun pada Maret 2015, naik 16,3% yoy. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) pada Maret 2015 tetap berada pada level yang rendah 0,7% dengan rasio cadangan kerugian sebesar 297,6%.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Rabu (6/5/15) saham BBCA turun 1,1%  pada level 13,750 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 13,850 dan bergerak dalam kisaran 13,575 – 13,775 dengan volume perdagangan saham mencapai 30 juta lembar saham.

Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham BBCA sejak awal November terpantau tengah mengalami penguatan tajam dan menembus resistance namun kali ini dalam posisi rawan koreksi teknikal. Terpantau indikator MA sudah bergerak turun dan pola Evening Star terbentuk pada Upper Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area jenuh beli setelah sebelumnya berada pada area tengah.

Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang bergerak turun yang menunjukan pergerakan BBCA dalam potensi koreksi. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju BBCA masih akan dalam tekanan dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan BBCA. Rekomendasai Trading pada target level support di level Rp13000 hingga target resistance di level Rp16000.

[ bmw / vibisnews ]
View

Related

EKBIS 6564034333626022151

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item