Apa Isi Perjanjian Ki Ageng Pamanahan dengan Ki Ageng Giring yang Diputus Sultan HB X ?

BLOKBERITA – Para Adik Sultan Hamengkubuwono X berziarah ke makam Ki Ageng Pemanahan di kompleks makam Kotegede, Senin (4/5/2015).

Keempat adik HB X yang terdiri dari GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, GBPH Prabukusumo, dan GBPH Condrodiningrat, tersebut tiba di kompleks makam Kotagede sekitar pukul 11 siang.

Gusti Prabu yang mewakili keempat pangeran tersebut menyatakan ziarah tersebut bertujuan untuk meminta maaf kepada pendiri Kerajaan Mataram Islam atas disebutnya para pendiri kerajaan dalam Sabdaraja yang belum lama ini dikeluarkan oleh Sultan HB X.

“ Karena kedua nama pendiri Kerajaan Mataram Islam, Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Giring disebut-sebut Ngarso Dalem di Sabdaraja, kami sebagai adik Ngarso Dalem sowan ke sini untuk meminta maaf,” ujar Gusti Prabu.

Dikatakannya dalam Sabdaraja, diungkapkan bahwa Sultan memutus perjanjian yang dibuat antara Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring, dan hal tersebut menjadikan alasan agar Sultan HB X bersedia meminta maaf ke para pendiri Kerajaan Islam Mataram tersebut.

Lantas, apa kaitan isi perjanjian antara Ki Ageng Pamanahan dengan Ki Ageng Giring dengan Sabdaraja Sultan HB X?

Setelah hancurnya kerajaan Majapahit, putra-putri Prabu Brawijaya menyebar ke berbagai wilayah di tanah Jawa, bahkan sampai Bali dan Lombok. Di tempatnya masing-masing, mereka berusaha untuk mendapatkan kembali tahta ayah mereka yang telah hilang.

Keyakinan bahwa wahyu kraton akan turun kepada putra yang memiliki kecakapan lahir batin ini sangat kuat menancap ke dalam relung jiwa para trah darah biru ini, di antaranya adalah Ki Ageng Giring (I)Ki Ageng Giring berjalan jauh melakukan pengembaraan hingga pilihannya jatuh pada daerah yang datar dengan pemandangan perbukitan dan sungai-sungainya yang jernih.

Di dekat sebuah mata air ia mendirikan gubug peristirahatannya.Ki Ageng Giring juga mengajarkan untuk menanam banyak pohon kelapa yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan penduduk waktu itu.

Kehidupan berlangsung hingga Ki Ageng Giring I wafat dan digantikan kedudukannya oleh putranya, Ki Ageng Giring II dan Ki Ageng Giring II pun wafat digantikan oleh putranya yakni Ki Ageng Giring III.

Pada masa Ki Ageng Giring III inilah terdapat kisah ‘wahyu gagak emprit’.

Ki Ageng Giring III yang tinggal di daerah Paliyan Gunungkidul disuruh menanam sepet atau sabut kelapa kering oleh Sunan Kalijaga yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan atau buah kelapa muda.

Menurut mimpi, Ki Ageng Giring harus segera memetik satu-satunya buah kelapa yang masih muda itu dan meminum airnya agar kelak dapat menurunkan raja dengan kepribadian yang utuh, yang kemudian dikenal dengan Wahyu Gagak Emprit.

Tetapi saat ditinggal di ladang, datanglah Ki Ageng Pamanahan. Karena datang dari jauh dan dalam kondisi haus, Ki Ageng Pamanahan meminum air kelapa yang ada di dalam mimpi Ki Ageng Giring yang telah dipetik.

Karena Ki Ageng Pamanahan adalah yang berhasil meminum air degan tersebut, hingga dia dan keturunannya yang berhak menjadi raja di tanah Jawa.Meski demikian Ki Ageng Giring menyampaikan keinginan kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.

Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh.

[ mrheal /  joglosemar ]
View

Related

POLITIK 7937207054080216419

Posting Komentar

Follow us

Terkini

Facebook

Quotes



















ads

loading...

Connect Us

loading...
item